Senin, 19 Juli 2010

Aspek Sosiologi dan Psikologi dalam Roman Atheis


PENDAHULUAN

Menurut Ajip Rosidi (1982), Atheis adalah sebuah roman yang melukiskan kehidupan dan kemelut manusia Indonesia dalam menghadapi bebrbagai pengaruh dan tantangan zaman. Roman ini bentuknya sangat istimewa dan orisinil. Sebelumnya tidak pernah ada roman seperti itu di Indonesia, baik stuktur maupun persolannya. Flash-back bukan pertama kali digunakan dalam penulisan roman Indonesia. Cara Achdiat mempergunakan flash-back itu sangat menarik. Atheis dibuka dengan suatu adegan “si-aku” pengarang bersama Kartini mencari berita tentang Hasan. Hasan ketika itu sudah mati. Kemudian “si-aku” mengisahkan pertemuan dengan Hasan yang memberikan karangan berasarkan pengalaman hidupnya. Maka mulailah cerita Hasan sampai hubungannya dengan orang tuanya mencapai krisis. Sesudah itu kembali “si-aku” tentang pengalaman Hasan selanjutnya sampai ia mati ditembak Jepang. Hasan dalam kisah pengalamannya menggunakan gaya-aku pula, sehingga di dalam roman ini ada dua “aku” yaitu “si-aku” pengarang dan “si-aku” Hasan.

Mengapa buku ini dinamakan Atheis? H. B. Jassin (1949) berpendapat karena memang ceritanya berputar pada ada atau tidak adanya Tuhan. Yang theis betul-betul ialah Raden Wiradikarta dan kiai-kiai. Yang atheis betul-betul adalah Rusli dan Anwar. Lalu Hasan? Hasa yang terombang-ambing lebih celaka dari atheis. Theis yang tulen dia sudah bukan dan ini menyebabkan dia lebih-lebih merasa sebagai atheis meskipun seorang atheis belum menganggapnya sebagai atheis.

Religiusitas dalam satra Indonesia terlihat dalam roman ini. Roman Atheis membawakan pengalaman religiusitas yang unik. Hasa yang dibesarkan dari keluarga Raden Wiradikarta yang Islam-orthodox, mengalamiperang batin dengan isme-isme modern dari Barat. Tokoh Rusli dalam cerita yang Marxis, maupun Anwar yang anarkhis, selama bergaul dengan tokoh utama dalam roman menjadikan roman yang berbobot dalam sejarah roman dan novel sastra Indonesia.

SINOPSIS

Hasan seorang putera pensiunan mantri guru yang bertempat tinggal di kampung Panyeredan, di lereng gunung Telaga Bodas. Raden Wiradikarta, demikian nama ayah Hasan. Sebelum pensiun, Raden Wiradikarta pernah berdinas di daerah Tasikmalaya, Ciamis, Banjor, Tenggarong, dan beberapa tempat kecil yang lain. Ia terkenal sebagai pemeluk agama Islam yang taat, saleh, dan alim. Dia memang keturunan orang-orang yang kuat imannya. Atas nasihat temannya, Haji Dahlan, ia beserta istrinya berguru ilmu tarekat kepada seorang kiai di Banten. Kehidupan sehari-hari rumah tangganya diwarnai dan bernafaskan ajaran-ajaran agama yang dipeluknya.

Sebagai anak satu-satunya yang masih hidup dari keluarga Raden Wiradikarta, Hasa sejak kecil mendapat pendidikan agama secara mendalam. Ibunya selalu melatih Hasa menghafal ayat-ayat Alquran. Oleh karena itulah, ia sejak kecil sudah dapat menghafal syahadat, shalawat, surat Al-Ikhlas, Al-Fatihah, dan sebagainya. Hasan tumbuh menjadi anak yang patuh pada orang tua dan taat kepada agama. Salat dan berpuasa sering dijalankannya. Cerita tentang surga, neraka, dan dosa selalu ia dengar pada saat-saat menjelang tidur, baik dari ibunya maupun dari Siti, pembantunya. Ketika Hasan meningkat dewasa, ia mengikuti jejak orang tuanya untuk memiliki ilmu sareat dan tarekat. Ia berguru ke Banten. Semenjak menganut ajaran mistik, Hasan semakin rajin melakukan ibadat. Sebagai akibatnya, pekerjaan kantornya sering terbengkalai. Dari teman-teman sekantornya ia mendapat gelar ”Pak Kiai”. Selain dari itu, kesehatan badannya tidak pernah diperhatikan, bahkan hidupnya dikendalikan oleh hal-hal yang tidak rasional, misalnya ia pernah mandi 40 kali semalam, tanpa menggunakan handuk sebagai pengering badannya. Tidak mustahil apabila akhirnya ia terkena penyakit tbc. Ia pernah berpuasa tujuh hari tujuh malam terus-menerus dan selama tiga hari tiga malam mengunci diri di dalam kamar tanap makan, minum, dan tidur. Iman yang tampaknya kuat, yang tidak disertai oleh kesadaran yang tinggi dan diimbangi oleh pengetahuan serta pengalaman hidup yang luas ternyata tidak dapat bertahan terhadap segala pergolakan, perkembangan hidup dalam masyarakat. Hasan sebagai produk dari pendidikan lingkungan masyarakat agama yang tertutup, fanatik, ia berkembang menjadi manusia yang fanatik, sempit pandangan hidup, dan kurang pengalaman. Ia melihat segala macam kehidupan dalam masyarakat dengan menggunakan ukuran-ukuran kaca mata ajaran agama. Hal ini sangat membatasi gerak dan wataknya sehingga ia kurang memahami masalah-masalah kehiduopan yang sebenarnya.

Kehadiran Rusli dan Kartini dalam kehidupan Hasan bagaikan badai yang melanda pohon talas. Walaupun tidak sampai tumbang, condonglah pohon yang tiada berakar tunggang itu, sejak tiupan pertama. Hasan yang telah biasa hidup dalam keadaan atau situasi yang mistis, Rusli dan Kartini yang menurut penglihatannya menarik, baik mengenai cara berpakaiannya, sikap pergaulan maupun ilmu pengetahuannya, bahkan sampai pada ideologi yang dianutnya. Semua serba menarik karena dianggap hal yang baru dan ditemuinya dalam suasana yang romantis. Hasan jatuh cinta kepada Kartini karena Kartini mirip sekali dengan Rukmini bekas pacarnya. Ia menginginkan hidup di samping Kartini dalam satu rumah tangga yang berbahagia. Rasa cinta itu;ah yang memupuk kelemahan Hasan dan merupakan awal dari segala perubahan dalam hidupnya. Ia berusaha menyenangkan dan menarik hati Kartini bahkan ia rela mengorbankan segala-galanya. Imannya luntur, hubungan dengan orang tuanya menjadi putus.

Hanyutlah Hasan dalam kehidupan yang dianut oleh Kartini dan kawan-kawannya: modern, bebas, dan berdasarkan paham Marxis.

Walaupun diketahui banyak tingkah laku Kartini yang sebenarnya bertentangan dengan jaran agama Islam, Hasan tetap mencintainya. Semua gerak-gerik, tingkah laku Kartini diterima dengan senang, dengan harapan agar Kartini tetap dekat dengannya.

Di tengah kembang-kempisnya harapan Hasan untuk hidup bersama denag nKartini, muncullah Anwar yang mencoba-coba menaruh hati juga kepada Kartini. Perasaan cemburu Hasan mendorongnya untuk menutupi segala kelemahannya. Kini tidak ada hal yang dianggap pantangan lagi oleh Hasan, seperti bioskop, makan masakan Cina, bergaul dengan wanita yang bukan muhrimnya, mengikuti pertemuan yang memperdalam Marxisme, bahkan menyangkal adanya Tuhan.

Kartini ditinggal mati oleh suaminya adalah seorang janda yang mendampingi kasih sayang seorang suami. Bagi dia Rusli bukanlah pria yang menjadi harapannya karena Rusli menyerhkan hidupnya untuk kepentingan politik. Demikian pula Anwar tidak menarik baginya, sedangkan Hasan laki-alki yang polos, mencurahkan kasih sayangnya dengan sepenuh hatinya dan mendapat sambutan baik dari Kartini. Akhirnya mereka kawin. Hidup bersama dilaksanakan di rumah Kartini.

Perkawinan mereka ternyata tidak membuahkan kebahagiaan seperti yang mereka dambakan. Kartini meneruskan kebiasaan hidup bebasnya, pergi tanpa suaminya. Ia memperdalam perassan cemburu Hasan kepadanya. Di samping itu, Hasan selau dihantui oleh larangan ayahnya untuk tidak kawin dengan Kartini dan diharapkan kawin dengan Fatimah.

Pada suatu hari terjadilah pertengkaran, yaitu ketika Hasan menunggu-nunggu kedatangan Kartini; Kartini datang bersama-sama denga nAnwar. Memuncaklah marah Hasan, dan Kartini ditempelengi; terjadilah perpisahan.

Sejak terjadi pertengkaran itu Kartini meninggalkan rumahnya. Ia pergi tanpa tujuan. Di jalan ia bertemu dengan Anwar. Atas bujukan Anwar, Kartini mau diajak bermalam di suatu hotel bersama-sama dengan Anwar. Karena Anwar berusaha untuk memperkosanya, Kartini lari dari penginapan itu dengan meneruskan perjalanannya ke Kebon Manggu.

Dalam perjalanan hidup selanjutnya, Hsan akhirnya ingat kembali pada ajaran agama yang pernah diberikan oleh orang tuanya. Dia menyesal atas kelalaiannya selama ini, ia mengutuki teman-temannya yang telah membawanya ke jalan yang sesat, jalan yang menyimpang dari agamanya, bahkan jalan yang bertentangan dengan agama. Dia insaf dan sadar, ia berusaha kembali ke jalan hidup semula, hidup dengan berpedang pada ajaran agama Islam.

Mendengar kabar bahwa ayahnya sedang sakit parah, Hasan pulang menjenguknya. Ia bertemu dengan ayahnya yang sudah dalam keadaan payah. Dalam keadaan yang sudah kritis, menjelang ajalnya, ayahmya masih sempat mengusir Hasan yang menungguinya supaya tidak berada di dekatnya. Setelah Hasan keluar dari kamar tidur, ayahnya meninggal denagn tenang. Sejak itu, Hasan telah kehilangan segal-galanya, istrinya, ayahnya, dan hari depannya bahkan tujuan hidupnya.

Ketika pulang ke Bandung, ke rumah Kartini, terjadilah kusukeiho. Ia terpaksa harus mencari tempat berlindung. Ia berlindung di suatu lubang perlindungan bersama-sama denag orang-orang yang senasib. Di tempat perlindungan itulah terngiang-ngiang suara ayahnya di hatinya, suara ayng menasihati, memarahi, mengutuk-ngutuk perbuatannyayang telah menyimpang dari ajraan agama Islam. Hal ini membuka hatinya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan lagi. Sementara itu, Hasan yang telah diserang penyakit tbc makin parah. Penyakit tbc-nya kambuh; ia merasa tak kuat melanjutkan perjalanan, dan mencari penginapan yang terdekat untuk beristirahat.

Dari daftar tamu di penginapan, tempat ia akan bersitirahat, ditemukan nama Kartini dan Anwar. Ia teringat pada saat Kartini pergi dari rumahnya. Setelah mendapat penjelasan dari pelayan hotel dan mengetahui suasana di situ, Hasan yakin bahwa Kartini telah berbuat serong dengan Anwar. Meledaklah amarahnya, ia lari keluar pada malam gelap untuk membalas dendam. Sementara itu, serene mengaung-ngaung tanda ada bahaya. Semua lampu dimatikan, setiap orang mencari perlindungan. Hasan sudah gelap mata, tidak menghiraukan lagi tanda bahaya, lari terus. Akhirnya, ia ditembak tentara Jepang karena disangka mata-mata musuh dan dibawa ke markas Ken Peitai. Ketika Kartini berusaha menemuinya, mereka memperoleh berita bahwa Hasan telah meninggal beberapa menit yang lalu. Mungkin Hasan yang sudah menderita tbc itu tidak tahan atas siksaan Ken Peitai.


ASPEK SOSIOLOGI DALAM ATHEIS
Latar Belakang Sosial Budaya

Ditinjau dari sosial budaya pada hakikatnya novel Atheis menyuguhkan dua macam anggota masyarakat yang memiliki latar belakang lingkungan hidup yang berlainan, yaitu kelompok antarhubungan langsung (keluarga, para tetangga kampung, persekutuan hidup kecil) dan kelompok dengan antarhubungan tidak langsung (persekutuan hidup besar, serikat buruh, dan serikat majikan).

Dalam roman Atheis, keluarga Raden Wiradikarta, khususnya Hasa mengambarkan kelompok dengan antarhubungan langsung atau kelompok masyarakat yang tertutup. Gambaran lingkunagn hidup mereka sebagai berikut:

Di lereng gunung Telaga Bodas di tengah-tengah pegunungan Priangan yang indah, terletak sebuah kampung, bersembunyi di balik hijau pohon-pohon jeru kGarut, yang segar dan subur tumbuhnya bertanah dan bahwa yang nyaman dan sejuk. Kampung Panyeredan namanya. Kampung itu terdiri dari kurang lebih dua ratus rumah besar dan kecil. Ynag kecil, yang jauh lebih besar jumlahnya dari yang besar, adalah kepunyaan buruh-buruh tani yang miskin dan yang besar ialah milik petani-petani “kaya” (artinya yang mempunyai tanah kurang lebih sepuluh hektar) yang di samping bertani, bekerja juga sebagai tengkulak-tengkulak jeruk dan hasil bumi lainnya. Di antara rumah-rumah kecil dan rumah-rumah besaar dari batu itu, ada lagi beberapa rumah yang dibikin dari “setengah batu” artinya lantainya dari tegel tapi dindingnya hanya sampai kira-kira seperempat tinggi dari batu, sedang ke atasnya dari dinding bambu biasa. (hal 16)


Sebagai anggota masyarakat kampung yang berkeadaan serba sederhana seperti terlukis pada kutipan itu mereka memiliki kemungkinan besar untuk memenuhi kebutuhan rohaniahnya terutama bidang religius. Diceritakan (1926:16) “ Ayah dan ibuku tergolong orang yang sangat saleh dan alim. Sudah sedari kecil jalan hidup ditempuhnya dengan tasbih dan mukena.” Mereka merasa belum cukup dengan patuh menjalankan ajaran agama yang mengandung kewajiban sehari-hari. Seluruh hidupnya dipusatkan pada kehidupan beragama. Mereka berguru keapda seorang Kiai di Banten untuk menjadi mistikus. “ Sebulan kemudian ayahnya memecahkan celengannya dan dengan uang yang ada di dalamnya itu berangkatlah ia ke Bnaten bersama-sama ibu.” (hal 19)

Corak kehidupan keluarga dan lingkungannya mewarnai pendidikan yang diterima Hasan. Sejak berumur lima tahun, Hasan memperoleh pendidkan agama yang fanatik. Dengan kacamata ajaran agama yang fanatik banyak ahal uang dianggapnya tabu. Hasan menjadi orang yang sempit pengetahuan dan pengalaman hidupnya. Tingkah laku Hasn pun tertuju ke arah tercapainya kebutuhan hidup di alam baka, seperti pengakuan Hasan.

Dulu tak ada paduka kegiatan untuk mencari kemajuan di lapangan hidup di dunia yang fana ini. Segala langkah hidupku ditujukan semata-mata ke arah hidup di dunia yang baka, di alam akhirat. (hal 129)

Dengan demikian, jelaslah keadaan sosial budaya yang melatarbelakangi kehidupan keluarga Raden Wiradikarta, khususnya Hasan, yaitu kehiudpan sosial budaya tradisional religius. Sebagai aggota kelompok masyarakat tertutup dengan latar belakang sosial budaya seperti itu, ternyata Hasan (keluarga Raden Wiradikarta) tidak mampu bertahan dan menyesuaikan diri dengan arus modernisasi.

Di pihak lain Rusli, Kartini, dan Anwar merupakan kelompok dengan antarhubungan tidak langsung atau kelompok masyarakat terbuka. Perhatikan riwayat hidup Rusli berikut ini:
Empat tahun Rusli hidup di Singapura. Dan selama empat tahun itu ia banyak belajar tentang soal-soal politik. Bukan hanya dengan jalan membaca buku-buku politik saja, akan tetapi juga banyak bergaul dengan orang-orang pergerakan internasional. Pergaulan semcam itu mudah sekali dijalankan di suatu kota “Internasioanl” seperti Singapura. Macam-macam aliran dan stelsel, serta ideologi-idelogi politik dipelajarinya dengan sungguh-sungguh, terutama sekali ideologi Marxisme.” (hal 36)
Dari Singapura Rusli pindah ke Palembang. Di sana ia sambil berdagang, banyak menulis surat-surat kabar dengan memakai nama samaran. Kemudian ia pindah ke Jakrta, dan pada akhirnya pindah ke kota Bandung. (hal 36)


Dari kutipan-kutipan yang telah dikemukakan dapat diketahui latar belakang sosial budaya diri Rusli. Sebagai anggota masyarakat yang terbuka tampak Rusli telah berada dalam tingkat kebudayaan modern. Dia memilih politik menjadi sarana untuk ikut bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup masyarakat dan kebudayaan. Jelas pula kiranya, tingkah laku Rusli diarahkan ke kepuasan hidup di alam fana ini. Akibat dari sosial budaya moern yang menjadi latar belakang hidupnya, maka tidak ada kesulitan pada diri Rusli untuk menyesuaikan diri dengan arus modernisasi.

Dari kelompok masyarakat terbuka diceritakan pula adanya individu yang salah sikap dalam menerima pengaruh kebudayaan modern. Salah satu contoh adalah penampilan diri Karetini. Diceritakan bahwa pengaruh kebudayaan modern meresap jau dalam kehidupan Kartini. Tidak hanya itu pengaruh kebudayaan modern pada diri Kartini. Bagi Kartini, yang kebetulan sedang mengalami keresahan akibat kematian suaminya dan campur tangan pihak keluarga suaminya, pengaruh modern yang dibawa oleh Rusli diterimanya tanpa seleksi. Kartini kehilangan pribadi sebagai orang Indonesia, orang Jawa. Pergaulan bebas tidak asing lagi baginya. Pernah ia berjalan sendiri pada tengah malam di daerah perempuan jalang. Sudah barang tentu sikap Kartini ini minimal menimbulkancitra bahwa Kartini seorang perempuan yang tidak baik.

ASPEK PSIKOLOGI DALAM ATHEIS

Kegoncangan kepercayaan dialami Hasan karena tidak bisa memilih pendirian yang beanr. Cara Rusli berbicara, mengmeukakan pendapatnya yang ramah, dan simpatik memperoleh sukses, medapat tempat di hati Hasan. Ia merasa menajdi manusia baru. Karena imannya yang telah goncang, ia tidak lagi merasa sebagai teis yang tulen, tetapi lebih merasa sebagai atheis meskipun Rusli dan Anwar belum menganggapnya sebagai atheis. Setelah memasuki dunia atheis kegoncangan kepercayaan yang dideritanya berkembang menjadi konflik kejiwaan. Konflik itu muncul semenjak ia mulai kenal dengan Kartini. Hasan yang tadinya berkeyakinan mistik dengan pembatasan pergaulan, merasa kaget dengan kenyataan hidup modern, bebas lepas yang diperlihatkan Kartini yang kemudian dikawininya.

Konflik kejiwaan Hasan meningkat klimaksnya denga terjadinya pertengkaran antara Hasan dengan ayahnya. Konflik kejiwaan belum berakhir sampi disitu, konflik kejiwaan berjalan terus pula setelah perkawinan Hasan-Kartini. Perkawinan yang pada hakikatnya hasil pendurhakaan Hasan terhadap tradisi orang tuanya. Ia diburu-buru oleh perasaab menyesal dan kutukan orang tuanya menghantui perkawinannya. Perkawinan Hasan-Kartini yang semula merupakan klimaks pembangkangan Hasan, disusul oleh antiklimaks meninggalnya Raden Wiradikarta, yang meninggalkan kutukan atas diri Hasan. Meskipun Hasan samapi merangkak minta ampun sebelum ajal merenggut jiwa ayahnya. Namun, ayahnya yang kecewa tidak memberi ampun kepada Hasan. Sebaliknya kutukan terhadap Hasan suatu pukulan mental yang amat parah akibatnya bagi jiwa dan fisik Hasan. “ Janganlah engaku dekat-dekat kepadaku … janganlah kau ganggu aku dalam imanku, agar mudah ku tempuh perjalananku ke hadirat-Nya ….” (hal 219)


DAFTAR RUJUKAN
Atmosuwito, Subijantoro. 1989. Perihal Sastra dan Religiusitas Dalam Sastra.
Bandung: Sinar Baru.
Jassin, H.B.Kesusastraan Indonesia Modern Dalam Kritik dan Esei II. Jakarta:
PT Gramedia.
Kusdiratin, dkk. 1978. Memahami Novel Atheis. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa.
Ratna, Kutha Nyoman. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Rosidi, Ajip. 1982. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Bina Cipta.
Saraswati, Ekarini. 2003. Sosiologi Sastra, Sebuah Pemahaman Awal. Malang: Bayu
Media dan UMM Press.

Related Articles :


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

1 komentar:

Denny Prabowo mengatakan...

waaaah kebetulan lagi butuh refrensi Atheis, akhirnya dapat juga!

Poskan Komentar

 

Rumah Kata Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha