Kamis, 12 Agustus 2010

Shilah bin Asyam Al-‘Adawy: Silembut yang Bijak


Oleh Hafi Zha

Shilah bin Asyam termasuk salah seorang ‘abid (ahli ibadah) di waktu malam dan pendekar di waktu siang. Apabila malam telah menyelimuti alam semesta dan orang telah lelap dalam mimpi indahnya, ia bangun lalu berwudhu dengan sempurna kemudian masuk ke mihrab dan shalat dengan penuh rasa cita kepada Tuhannya. Oleh sebab itulah, cahaya ilahi memancar menerangi mata hatinya sehingga ia dapat melihat tanda-tanda kekuasaan Allah di semesta ini.

Di samping itu, ia pun gemar membaca Al-Quran di waktu fajar. Apabila malam tinggal sepertiganya, ia membungkukkan tubuhnya menghadap Al-Quran lalu mulai membaca ayat-ayat Allah dengan tartil dan suara merdu. Terkadang ia merasa betapa manisnya ayat-ayat Allah tersebut merasuk ke lubuk hatinya dan menimbulkan pengaruh rasa takut kepada Allah dalam pikirannya. Ada kalanya ia merasakan Al-Quran itu mempunyai daya kekuatan yang mampu membelah hatinya.

Belum pernah sekalipun Shilah bin Asyam meninggalkan ibadahnya, baik di waktu mukim maupun di dalam perjalanan; baik di kala sibuk maupun di kala senggang. Ja’far bin Zaid menceritakan:

“Aku berangkat bersama balatentara muslimin dalam suatu peperangan menuju kota Kabul dengan harapan dapat menaklukannya. Di antara pasukan dalam peperangan tersebut ada Shilah bin Asyam.

Ketika malam telah tiba, kami menghentikan perjalanan untuk makan malam dan menunaikan shalat isya kemudian masing-masing masuk ke kendaraannya untuk beristirahat. Aku melihat Shilah pun pergi ke kendaraannya dan membaringkan tubuhnya sebagaimana dilakukan oleh yang lain. Aku berkata dalam hati, mana yang diceritakan orang tentang shalat dan ibadah orang ini—yang digembor-gemborkan orang hingga kakinya bengkak! Demi Allah, akan kuperhatikan dia malam ini hingga aku tahu apa yang dilakukannya.

Setelah semua serdadu tertidur lelap, aku melihat Shilah bangun dari tempat tidurnya lalu menjauhkan diri dari pasukan sambil mengendap-ngendap. Dia masuk ke dalam hutan yang lebat—yang tampaknya belum pernah dimasuki orang sebelumnya. Aku mengikutinya secara sembunyi-sembunyi.

Setelah sampai di tempat yang lapang, ia mencari arah kiblat lalu menghadapkan dirinya ke sana. Kemudian, ia mengucapkan takbir untuk shalat dan tenggelam dalam shalatnya. Aku memperhatikannya dari jauh. Wajahnya tampak bersinar, anggota tubuhnya tak bergerak, dan jiwanya tenang. Seakan-akan di tempat sunyi itu ia mendapatkan ketentraman, di tempat yang jauh ia mendapatkan kerabat, dan di dalam gelap ia mendapatkan cahaya yang benderang.

Di luar dugaan muncul seekor singa dari arah timur hutan. Setelah aku yakin benar bahwa itu seekor singa, hatiku menjadi takut lalu aku memanjat ke atas sebuah pohonyang tinggi untuk menyelamatkan diriku. Singa itu mendekati Shilah sedikit demi sedikit sehingga jaraknya tidak begitu jauh. Demi Allah, dia sama sekali tidak menoleh dan tidak menaruh perhatian sedikit pun kepada singa itu. Ketika dia bangkit dari sujudnya lalu duduk, singa itu berdiri di hadapannya seolah-olah memperhatikannya. Setelah memberi salam, Shilah memandang singa itu dengan tenang lalu menggerakkan kedua bibirnya—mengatakan sesuatu yang tidak dapat kudengar. Tiba-tiba singa itu pergi ke tempatnya semula.

Setelah fajar menyingsing, ia bangkit lalu melaksanakan shalat subuh. Kemudian mengucapkan puji-pujian kepada Allah Azza wa Jalla dengan puji-pujian yang belum pernah kudengar sebelumnya. Kemudian ia berdoa, ”Ya Allah aku mohon kepada-Mu agar Engkau lepaskan diriku dari api neraka. Dan apakah pantas seorang hamba yang banyak dosa seperti aku ini pantas memohono surga kepada-Mu?”

Doa tersebut diulang-ulanginya hingga akhirnya ia menangis dan aku pun ikut menangis. Kemudian ia kembali ke pasukan tanpa seorang pun mengetahui apa yang telah dilakukannya dan dialaminya malam itu—kecuali Allah.”

Shilah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memberikan petuah, menyeru ke jalan Allah dengan bijaksana dan nasihat yang baik. Di antaranya adalah pada suatu hari ia keluar ke tanah lapang yang luas di kota Bashrah untuk ber-khalwat dan beribadah. Lalu lewatlah di hadapannya anak-anak muda yang sedang bermain dan bersenda gurau, bercanda dan bersuka ria. Ia memberi salam kepada mereka dengan ramah dan mengajak mereka berbicara dengan lemah lembut.

”Bagaimana pendapat kalian terhadap suatu kaum yang hendak melakukan suatu perjalanan panjang yang sangat penting namun di waktu siang mereka menyimpang dari jalan yang dituju untuk bercanda dan bermain, sedangkan di waktu malam mereka beristirahat. Kapankah kiranya mereka akan berangkat dan sampai di tujuan?” tanyanya kepada anak-anak muda tersebut.

Ia mengulang kata-katanya itu berkali-kali hingga salah seorang anak muda itu sadar bahwa ucapan Shilah itu ditujukan kepada mereka. Lalu anak muda ini memisahkan diri dari kawan-kawannya dan sejak saat itu dia mengikuti Shilah hingga akhir hayatnya.

Pada kesempatan lain, seorang pemuda datang kepada Shilah dan memintanya mengajarkan ilmu yang telah diajarkan Allah kepadanya.

”Jadikanlah Al-Quran sebagai perisai dirimu dan penghibur hatimu serta ambillah petuah darinya. Lalu berikanlah petuah tersebut kepada kaum Muslimin dan perbanyaklah membaca doa kepada Allah sekuat kemampuanmu,” jawab Shilah. Jawaban itu pulalah yang diterimanya dulu ketika ia mendatangi para sahabat Rasulullah saw untuk maksud yang sama.

Kemudian pemuda itu berkata, ”Doakanlah aku, semoga Tuan dibalas dengan kebaikan.”

Shilah mendoakan, ”Semoga Allah Ta’ala membuatmu gemar pada segala yang abadi dan membuatmu benci kepada yang fana; memberikan keyakinan kepadamu sehingga jiwamu tenang karenanya.”

Pada tahun 78 Hijri, Shilah bin Asyam berangkat perang bersama sepasukan kaum Muslimin menuju ke Turkistan. Anaknya pun ikut serta.

Ketika kedua belah pihak telah saling berhadapan, Shilah berkata kepada anaknya, ”Wahai anakku, majulah dan berjuanglah memerangi musuh-musuh Allah sampai titik darah penghabisan!” Lalu si anak menyerbu ke tengah-tengah barisan musuh ibarat panah lepas dari busurnya. Dengan gagah berani ia menyerang ke kiri dan ke kanan hingga akhirnya ia gugur sebagai syuhada. Tidak lama kemudian ayahnya pun menyusulnya, gugur sebagai syuhada di sampingnya. Semoga Allah memasukkannya dalam golongan hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Disarikan dari buku ”Kisah Para Tabiin 2” karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya

Related Articles :


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rumah Kata Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha