Senin, 26 Juli 2010

Buku dan Perpustakaan: Elemen Penting Pencapaian Reading Culture dalam Masyarakat Indonesia


Oleh Hafi Zha

Kebutuhan manusia akan informasi tidak bisa lepas dari posisi manusia sebagai makhluk sosial. Hubungan dengan manusia-manusia lain memaksa manusia untuk selalu mendapatkan informasi demi kelangsungan hidupnya. Berbagai jenis informasi tersedia dalam kehidupan manusia, salah satunya yang paling populer adalah buku. Buku telah hadir ke ranah sejarah kehidupan umat manusia sejak manusia mulai mengenal tulisan. Mau tidak mau, kebiasaan membaca terbentuk dan minat terhadap buku meningkat.

Pencarian manusia akan informasi menyebabkan manusia memerlukan berbagai pusat informasi yang nantinya akan memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan. Perpustakaan merupakan salah satunya. Namun melihat kondisi perpustakaan di negeri ini, timbul pertanyaan: masih layakkah perpustakaan disebut sebagai pusat informasi ataukah diposisikan dalam kondisi yang terbuang, dianggap hanya sebagai gudang penyimpan buku? Ironis memang. Tetapi inilah realita perpustakaan di negeri ini. Salah satu fakta yang bisa kita tengok dalam masyarakat adalah kondisi Perustakaan Kediri yang memiliki dinding kusam, koleksi yang minim, serta kegiatan perbukuan yang sepi akibat miskinnya inovasi para penjaganya (Jawa Pos, 9/7/2006). Kita tidak bisa menutup mata begitu saja terhadap kondisi perpustakaan—sebagai tempat alternatif mendapatkan informasi —tersebut maupun perpustakaan di daerah-daerah lainnya, bahkan perpustakaan nasional.

Kondisi Masyarakat Kini
Sebuah negara yang sedang berkembang seperti negeri kita ini memerlukan berbagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan agar bisa lebih maju. Namun kenyataannya, kesadaran masyarakat Indonesia akan informasi masih sangat kurang. Buku sebagai salah satu sumber informasi yang penting menjadi terabaikan oleh masyarakat. Begitu juga halnya dengan perpustakaan. Harusnya kita kembali pada definisi perpustakaan itu sendiri. Pengertian umum tentang perpustakaan dapat diacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002. Dalam kamus ini tertulis:

perpustakaan: 1) tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan pendayagunaan koleksi buku, dsb. 2) koleksi buku, majalah dan bahan kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dibicarakan.

Sulistyo-Basuki mengemukakan bahwa perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah ruangan, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Sementara itu, Dr. Sukarman, salah satu pakar kepustakawanan di Indonesia mendefinisikan perpustakaan sebagai:

Institusi / lembaga pengelola koleksi karya tulis, cetak dan atau rekam sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang diatur dan ditata menurut sistem yang baku dan didayagunakan untuk keperluan pendidikan, penelitian, informasi, dan rekreasi bagi masyarakat.

Perpustakaan sudah seharusnyalah digunakan sebagaimana fungsinya sebagai penyedia informasi. Peningkatan kinerja perpustakaan harus diimbangi dengan peningkatan minat baca masyarakat. Tidak akan ada artinya jika kualitas perpustakaan terus ditingkatkan, sedang minat baca masyarakat tetap berada pada level yang stagnan.

Kondisi masyarakat Indonesia tampaknya menunjukkan kualitas minat baca yang masih kurang, disebabkan oleh berbagai faktor. Budaya bangsa ini memang sejak dulu adalah budaya lisan, bukan budaya untuk membaca. Kultur masyarakat yang masih tradisional juga menyebabkan minat baca yang kurang. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang terbiasa dengan budaya lisan. Lebih parah lagi, ketika bangsa ini mulai menghadapi modernisasi, di mana kita dihadapkan pada era telekomunikasi global. Kita berhadapan dengan era teknologi komunikasi yang lebih praktis, melalui radio, televisi bahkan internet. Jadi kita bisa bayangkan betapa ”hebatnya” bangsa ini melakukan sebuah lompatan besar dalam sejarah perkembangan. Bangsa ini tidak sempat mencicipi era membaca atau budaya baca tapi melompat dari budaya lisan langsung menuju era teknologi komunikasi global. Masyarakat lebih senang duduk di depan televisi berjam-jam daripada menyempatkan diri untuk ”mampir” ke perpustakaan atau paling tidak menyempatkan diri untuk membaca buku apa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Kenyataan pahit harus diterima bangsa Indonesia dalam kaitannya pemberantasan buta huruf demi meningkatkan minat baca. Meskipun persentase penduduk buta aksara setiap tahun cenderung menurun, namun menurut data tahun 2002, diketahui masih ada 18,7 juta penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas yang buta huruf. Hal ini masih diperparah dengan kenyataan, bahwa setiap tahun ada 250-300 ribu siswa kelas 1, 2, dan 3 SD yang putus sekolah (Republika, 24 Januari 2003).

Sementara itu, pada tahun 2000 organisasi International Educational Achievement (IEA) menempatkan kemampuan membaca siswa SD Indonesia di urutan ke-38 dari 39 negara atau terendah di antara negara-negara ASEAN. Dengan kondisi seperti itu, maka tak heran bila kualitas pendidikan di Indonesia juga buruk. Dalam hal pendidikan, survei The Political and Economic Risk Country (PERC), sebuah lembaga konsultan di Singapura, pada akhir 2001, menempatkan Indonesia di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia yang diteliti (Republika, 24 Januari 2003).

Permasalahan minat baca tidak bisa lepas dari permasalahan budaya lisan Indonesia dan juga permasalahan klasik yaitu masalah ekonomi. Hal ini menyebabkan rendahnya daya serap atau daya beli masyarakat Indonesia terhadap buku-buku yang diterbitkan penerbit dalam negeri apalagi penerbit luar negeri. Penyerapan buku-buku yang diterbitkan hanya terbatas pada kalangan tertentu saja, seperti kalangan birokrat, akademisi, maupun mahasiswa—yang mempunyai high purchasing power.

Perpustakaan seharusnya menjadi alternatif terbaik di saat daya beli masyarakat yang rendah terhadap buku. Cost yang diperlukan untuk hal ini juga sangat murah, asalkan bersedia meluangkan waktu untuk pergi ke perpustakaan. Perpustakaan merupakan sarana yang baik dalam transfer gagasan, pikiran, dan berbagai hal positif lainnya yang nantinya akan bisa digunakan untuk memberdayakan masyarakat sebagai suatu lembaga yang utuh dan integral.


Keberadaan Perpustakaan dalam Pencapaian Reading Culture
Hadirnya perpustakaan di tengah masyarakat sangatlah penting. Misi utama perpustakaan adalah menyediakan layanan pendayagunaan koleksi bagi pengguna. Terlaksananya misi itu amat tergantung pada kondisi berkembangnya minat dan kegemaran membaca di kalangan masyarakat. Tapi sebaliknya, minat dan kegemaran membaca juga hanya dapat berkembang apabila ada fasilitas berupa tersedianya bahan bacaan yang cukup memadai dan menarik.

Reading culture dapat dicapai dengan hadirnya perpustakaan di tengah lingkungan kehidupan masyarakat—yang sebenarnya akan menuntun mereka untuk mulai membangun kemampuan membaca (reading ability), dan selanjutnya membina kebiasaan membaca (reading habit)—yang pada akhirnya akan menciptakan masyarakat membaca (reading socity) serta masyarakat belajar (learning society). Anak-anak yang dididik untuk gemar membaca akan memiliki kemampuan afektif dan kognitif yang lebih baik daripada anak-anak yang tidak suka membaca. Hal ini disimpulkan oleh Marry Leonhardt, dalam bukunya yang berjudul 99 Cara Menjadikan Anak Anda Keranjingan Membaca, yaitu 1) anak yang membaca mampu menulis, berbicara, dan memahami gagasan lebih baik daripada anak yang tidak membaca; (2) anak yang membaca mempunyai wawasan yang lebih luas, (3) anak yang membaca tidak mengalami krisis kepribadian terhadap kemampuan akademis, (4) anak yang membaca mempunyai kesempatan dan kemungkinan (opportunity and probability) yang lebih luas dalam memahami kehidupan, dan (5) anak yang membaca lebih kreatif dan argumentatif.

Korelasi antara kegemaran membaca dengan kebutuhan masyarakat akan buku di perpustakaan pernah dijelaskan dengan sangat baik oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, sewaktu memberi pengarahan pada Kongres VII Ikatan Pustakawan Indonesia dan Seminar Ilmiah Nasional di Jakarta, 20-23 November 1995. Menurut Menteri, pengelolaan buku sebagai salah satu sumber belajar utama dalam proses pendidikan memiliki peranan yang menentukan dalam upaya peningkatan mutu sumber daya manusia. Sedang upaya peningkatan mutu sumber daya manusia dalam era penduniaan (globalisasi) sangat erat kaitannya dengan upaya penumbuhkembangan kegemaran membaca yang diharapkan dapat mewujudkan suatu masyarakat yang gemar belajar (learning society). Apabila kegemaran membaca masyarakat telah tumbuh dan terbentuk, maka kebutuhan akan buku menjadi meningkat pula, dan perpustakaan akan berfungsi sebagai wahana pencerdasan kehidupan bangsa.

Sebenarnya sejak tahun 1995 secara nasional telah diciptakan kondisi yang mendukung pengembangan minat membaca, yakni dengan dicanangkannya Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca Nasional, tanggal 14 September 1995, oleh Soeharto—yang saat itu masih sebagai Presiden Republik Indonesia. Selanjutnya, dicanangkan pula hari Gerakan Membaca Nasional pada setiap tanggal 12 Nopember oleh mantan Presiden negara ini, Megawati Soekarnoputri sejak tahun 2003. Pencanangan kedua hal tersebut selalu dikaitkan dengan acara/kegiatan perpustakaan, sehingga sesungguhnya ada dasar yang kuat bagi perpustakaan untuk mengembangkan terus program pembinaan minat baca.

Upaya Peningkatan Minat Baca, Daya Beli Buku, dan Kualitas Perpustakaan
Minat baca masyarakat yang rendah, daya beli masyarakat terhadap buku yang juga rendah, dan kondisi perpustakaan yang menyedihkan seakan seperti lingkaran setan yang saling berhubungan dan merugikan siapapun yang berada di dalamnya—merupakan salah satu faktor sulit terwujudnya reading culture di negeri ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya untuk memperbaiki ketiga hal di atas.

Rendahnya minat baca nasional disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan erat dengan rendahnya daya beli buku dan kualitas perpustakaan yang masih di bawah rata-rata. Faktor-faktor itu antara lain rendahnya kemampuan masyarakat untuk membeli buku karena mahalnya harga buku, kurang tersedianya buku-buku terbitan nasional yang bermutu, dan belum dimasukkannya kegiatan membaca dalam kurikulum pendidikan nasional, serta kurang tersedianya perpustakaan yang menyediakan bahan bacaan yang lengkap dan relevan di tengah masyarakat. Kontribusi berbagai pihak dalam meningkatkan minat baca mutlak diperlukan. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam meningkatkan minat baca oleh berbagai pihak dengan berbagai usaha yaitu sebagai berikut:

  1. Melakukan berbagai penyuluhan tentang pentingnya membaca kepada masyarakat. Dapat dilaksanakan oleh pemerintah, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dengan membentuk kelompok membaca atau rumah baca, iklan layanan masyarakat di berbagai media baik cetak maupun elektronik yang dapat meningkatkan semangat masyarakat untuk gemar membaca.
  2. Menumbuhkan minat baca kepada anak sejak usia dini. Hal ini dapat dilakukan oleh para orang tua dengan menyediakan berbagai buku-buku ringan, yang menarik perhatian anak-anak. Selain itu, juga dengan mengurangi ketergantungan anak pada media-media yang dapat menghambat proses pembentukan minat baca pada anak seperti ketergantungan pada televisi.
  3. Mengubah kebiasaan masyarakat yang dulunya terbiasa dengan budaya lisan, menjadi budaya tulis atau baca. Membiasakan masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan pikiran tidak hanya melalui lisan tetapi juga dengan tulisan. Dari tulisan-tulisan ini masyarakat akan terbiasa untuk membaca pendapat atau pikiran orang lain melalui tulisan. Dengan usaha ini, diusahakan minat baca akan terus meningkat seiring dengan berkembangnya pikiran masyarakat.
  4. Peran serta penerbit buku dalam meningkatkan minat baca dapat dilakukan dengan pengemasan buku yang menarik terutama pada segmen anak-anak.
  5. Media massa, baik cetak maupun elektronik, tidak hanya menyajikan iklan layanan masyarakat tentang pentingnya membaca, tapi juga benar-benar melakukan langkah nyata dengan membuat sebuah rubrik tertentu yang membahas tentang perbukuan atau resensi buku (dapat dilakukan oleh media cetak) dan bagi media elektronik dengan cara membuat program acara menarik yang menyajikan promosi mengenai buku-buku tertentu. Program promosi membaca ini dapat dilakukan bekerjasama dengan pihak penerbit buku dan kelompok baca.
  6. Pelaksanaan metode Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di lingkungan sekolah diarahkan pada pencarian secara mandiri oleh siswa berkaitan dengan tugas-tugas tertentu melalui studi pustaka atau membaca buku. Hal ini tidak bisa lepas dari tujan KBK yaitu menerapkan proses kemandirian dalam pembelajaran siswa. Kemandirian dalam sistem KBK inilah yang harusnya menjadi pemacu minat baca siswa, sehingga siswa tidak hanya tergantung pada penjelasan guru yang hanya mengarah pada budaya lisan (mendengar) tapi beralih pada kesadaran aktif siswa untuk membaca.

Jika tadi telah dijelaskan langkah-langkah proaktif dalam usaha meningkatkan minat baca, maka selanjutnya adalah usaha meningkatkan daya beli masyarakat terhadap buku. Diperlukan usaha-usaha dari berbagai kalangan dalam meningkatkan daya serap masyarakat terhadap buku yaitu sebagai berikut.
  1. Pengadaan buku-buku murah namun bermutu dengan harga yang relatif terjangkau oleh semua kalangan, utamanya kalangan masyarakat bawah dan menengah. Bisa dilakukan dengan bazaar murah dan pameran buku oleh penerbit, toko buku, atau bahkan perpustakaan sekalipun.
  2. Mengusahakan ongkos produksi yang murah untuk buku sehingga harga jual buku bisa ditekan, namun tetap memberikan keuntungan atau profit.
  3. Peraturan perizinan penerbitan yang dipermudah oleh pemerintah, namun tetap mengindahkan kaidah-kaidah dan norma-norma masyarakat, sehingga dengan banyaknya penerbit, berarti banyak buku yang diterbitkan dan berarti juga harga buku akan relatif lebih murah dan terjangkau semua kalangan utamanya kalangan masyarakat bawah dan menengah.
  4. Untuk menyiasati lemahnya daya beli buku masyarakat, pemerintah harus melengkapi prasarana dan koleksi buku di perpustakaan yang telah ada. Di samping itu, untuk pemerataan dan akses yang lebih luas, perpustakaan umum baru perlu ditambah, terutama di daerah terpencil. Rasio jumlah buku dan perpustakaan dengan jumlah penduduk di Indonesia sangat jauh sekali. Idealnya, setiap kecamatan bahkan kelurahan atau desa memiliki perpustakaan umum dengan koleksi buku yang memadai dan dikelola secara profesional. (Pikiran Rakyat, 26 Maret 2005)
  5. Usaha yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Erat sekali kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan oleh masyarakat, dimana masyarakat sangat mengutamakan pemenuhan kebutuhan primer terlebih dulu. Kebutuhan akan buku dianggap sebagian besar masyarakat sebagai kebutuhan sekunder bahkan sebagai kebutuhan tersier. Jadi, yang pertama dilakukan oleh negara (pemerintah) adalah peningkatan kesejahteraan, sehingga bila kesejahteraan telah terpenuhi, masyarakat akan mulai berpikir untuk memenuhi kebutuhannya akan buku, karena masyarakat akan sadar betapa pentingnya informasi.
Di saat peningkatan daya beli masyarakat terhadap buku masih terus berjalan, perpustakaan bisa menjadi pilihan alternatif bagi usaha mengembangkan budaya baca. Namun kenyataannya perpustakaan banyak yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bagaimana hal tersebut bisa diatasi, berikut akan dipaparkan metodenya satu per satu.
  1. Pemberdayaan perpustakaan sebagai pusat informasi dapat dilakukan dengann peningkatan fasilitas dan sarana perpustakaan. Tentu saja dengan pemanfaatan yang optimal dan perlu dilakukan pengenalan kepada masyarakat, karena tidak akan ada artinya jika fasilitas lengkap namun hanya dibiarkan saja tanpa ada yang pemanfaatan yang optimal.
  2. Peningkatan kualitas pelayanan perpustakaan terhadap masyarakat akan mempermudah masyarakat dalam pencarian informasi. Perpustakaan tidak bekerja secara pasif, tetapi secara aktif memberikan pelayanan kepada masyarakat, dengan mencari tahu atau menanyakan buku apa yang dibutuhkan. Jadwal kunjungan pun perlu ditinjau ulang, tutupnya perpustakaan setidaknya mengikuti jadwal belajar masyarakat bukannya jadwal kantor pegawai negeri—sebagian besar terjadi akibat dari pengelola perpustakaan adalah para pegawai negeri.
  3. Pengelolaan perpustakaan secara profesional oleh pustakawan yang handal dengan cara merekrut sarjana-sarjana perpustakaan. Kenyataannya saat ini adalah perpustakaan dikelola oleh orang-orang yang kurang kompeten dalam perpustakaan. Dengan hanya bermodal kursus, mengikuti lokakarya atau seminar kepustakawanan, mereka dengan mudah mendapatkan predikat ”pustakawan”. Perlu ada penanganan khusus oleh orang-orang yang ahli dalam bidang perpustakaan yang akan memberikan sentuhan baru bagi perpustakaan—perpustakaan akan dikelola dengan naluri seorang pustakawan yang betul-betul mencintai buku dalam hidupnya.
  4. Mengubah pandangan masyarakat terhadap perpustakaan. Jika selama ini perpustakaan dianggap sebagai ruangan yang penuh dengan buku, harus sepi, sunyi dan harus tenang, maka tugas pustakawanlah untuk mengubah image yang terlanjur melekat pada perpustakaan. Menjadikan perpustakaan seakan-akan sebagai obyek wisata keluarga adalah salah satu pilihan. Dengan merubah suasana dan interior menjadi lebih akrab dan lebih santai dengan berbagai lukisan ceria di dinding merupakan sebuah kemajuan dalam menciptakan suasana perpustakaan yang bersahabat dan ceria.

Related Articles :


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rumah Kata Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha