Selasa, 17 Agustus 2010

Upaya Konversi Uang untuk Anjal


Oleh Hafi Zha

Anak jalanan kumbang metropolitan/ Selalu ramai dalam kesepian/ Anak jalanan korban kemunafikan/ Selalu kesepian di keramaian/ Tiada tempat untuk mengadu/ Tempat mencurahkan isi kalbu/…

Petikan dari lagu The Rollies di atas boleh jadi merupakan gambaran kondisi saat ini. Anak jalanan (anjal) menjadi kumbang yang terbang ke sana kemari di tengah kota besar. Mulai dari mengamen, menjual koran hingga mengemis mereka lakukan demi mencari sesuap nasi. Keluarga yang seharusnya sebagai tempat untuk mengadu dan mencurahkan perasaannya tidak pernah mereka dapatkan walaupun mereka masih mempunyai orang tua yang masih lengkap. Sumber dari munculnya masalah anak jalanan adalah ekonomi yang melanda keluarga mereka.

Indonesia yang mengalami pascakrisis ekonomi menyebabkan hampir setengah dari penduduk di Indonesia tergolong ke dalam kelompok miskin. Sebab kemiskinan ekonomi akan berdampak pada kualitas kesehatan, kecerdasan, dan tingkat pendidikan. Secara tidak langsung hal ini mengenai anak-anak yang berasal dari keluarga miskin untuk menjadi anjal secara terpaksa (dipaksa).

Dewasa ini jumlah anjal kian membludak. Dari data Dinas Sosial jumlah anjal pada 2003 sebesar 2.310 anak dan pada 2005 sebesar 2.477 anak. Hal ini tidak dibarengi dengan upaya penanganan terhadap anjal. Upaya penanganan terhadap masalah ini hingga kini masih sangat terbatas. Padahal secara konseptual, penanganan masalah anjal dijamin oleh peraturan-peraturan yang ada. Survei terhadap 100 anjal yang dilakukan Data Informasi Anak / YKAI menunjukkan hanya 10% anjal yang pernah terjangkau oleh program penanganan baik yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun oleh lembaga swadaya masyarakat. Lalu adakah cara lain untuk mengatasi masalah ini?

***

Faktor ekonomi memang mendominasi munculnya masalah anjal sehingga pemerintah dan lembaga sosial dituntut untuk memberdayakan ekonomi keluarga(khususnya keluarga miskin) secara intensif dan menyeluruh. Namun ternyata program-program bantuan hanya bersifat seremonial saja, sama sekali tidak menyentuh lansung anjal. Hal ini disebabkan tidak ada kekonsekuenan dan ketidaktegasan pemerintah menjalankannya.

Cara lain yang sekarang ini kian menjamur adalah adanya rumah singgah. Di rumah singgah ini mereka diberikan bimbingan pendidikan, keterampilan, dan pemberian kesempatan kerja. Ironisnya, mereka bertahan hanya beberapa bulan lalu kembali ke jalan. Beberapa anak disekolahkan dan ditanggung biaya hidupnya pun kembali ke jalan. Hal ini diakibatkan mereka lebih mudah memperoleh uang di jalan daripada bekerja atau kembali ke sekolah.

Menurut teori reinforcement: “sesuatu yang menyenangkan akan sealu diulang, sesuatu yang tidak menyenangkan akan dihindari”. Mereka (anjal) menganggap sekolah adalah sesuatu yang tidak menyenangkan (punishment) dan dengan mengamen atau meminta-minta di jalan adalah sesuatu yang menyenangkan (reward) karena akan mendapatkan banyak uang untuk bersenang-senang.

Anjal tidak juga berkurang jumlahnya dengan kedua solusi di atas karena ternyata diri kita pun turut andil dalam menyuburkan masalah ini. Sadar atau tidak, rasa kasihan kita menjadi senjata bagi anjal untuk memperoleh uang akibatnya mereka lebih memilih kembali ke jalan daripada bersekolah atau bekerja. Uang yang kita beri kepada mereka menimbulkan kemalasan, kebodohan, tingkat kriminalitas serta masa depan yang suram bagi mereka secara tidak langsung.

Kita bisa tetap memberikan uang kepada mereka dengan upaya konversi terhadap uang yang kita berikan. Ada lima upaya konversi yang bisa dilakukan. Pertama, uang dapat kita konversi dengan bantuan pangan dengan mengadakan bazar sembako murah (tidak secara gratis). Hal ini disebabkan rakyat marginal tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari karena tingginya harga sembako. Kedua, dengan latar belakang pendidikan yang rendah serta lingkungan yang tidak sehat mengakibatkan anjal rentan dengan penyakit. Kesadaran mereka terhadap kesehatan masih sangat rendah. Uang dapat dirubah menjadi penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan untuk awareness, subsidi obat-obatan serta subsidi perawatan kesehatan.

Ketiga, pendampingan terhadap anjal untuk memulihkan percaya diri mereka. Uang dapat dialihkan dengan waktu yang kita berikan untuk mendampingi mereka. Keempat, uang dapat kita konversi menjadi “beasiswa” atau membantu mereka dalam pendampingan bimbingan belajar, memberikan kesempatan mereka untuk sekolah lagi. Dan terakhir adalah penyediaan lapangan pekerjaan. Sebagai contoh yang baik, Carrefour melakukan terobosan yang sangat bagus dengan menerima 4 anjal yang cukup umur untuk bekerja di perusahaannya. Bayangkan jika terdapat “Carrefour” yang laiinnya, mungkin jalanan akan sepi dengan anjal. Kepedulian terhadap anjal adalah baik adanya, namun jika dilakukan dengan kurang tepat terkadang bukan sedang menolong mereka melainkan membunuh secara perlahan masa depan mereka. Dengan adanya upaya konversi terhadap “uang” yang diberikan, diharapkan dapat meningkatkan minat anjal untuk keluar dari jalanan kembali ke dalan kehidupan normal.

Related Articles :


Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rumah Kata Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha