Senin, 26 Juli 2010

Dongeng untuk Anakku


Puisi Hafi Zha




























Anakku, pada tiaptiap bulan yang dilalui
Kurangkai manikmanik dari air mata ibu
Entah berapa juta manik yang ibu teteskan dari telaga matanya
Menahan nyanyian pilu di perutnya
yang tak kunjung dijamah sebutir nasi
yang tibatiba saja naik membumbung setinggi langit

Ibu hibur hati anakanaknya yang duduk mengelilingi tungku
Merebus batu di bawah atap langit semesta
Bertabur bintang kerlapkerlip,
saat anak lelakinya yang corengmoreng wajahnya
dekil, dan kumal namun matanya berbinar
menengadah menunjuk bintang yang paling terang
berseru ia, “kelak, aku akan seterang dan sebesar bintang itu”
Senyap menyelimuti hati ibu yang terus mengadukngaduk rebusannya
Walau ibu tahu, batu itu tak akan pernah dapat masak
Setidaknya bisa mengganjal perut anakanaknya

Bulan kembali harus dilalui
Anakanak ibu menangis mengelilingi tungku yang padam nyalanya
Tak lagi beri panas,
sekedar menghangatkan semesta alam yang menggigil kedinginan
Anak lelaki tertuanya yang pantang menangis
berkata, “besok, aku ikut kakakkakak demo ya, Bu.
Biar ibu bisa nyalakan tungku lagi.”
Lalu, ibu meninabobokan tangisan anakanaknya
Biar tak membanjiri ruang dunia
Anakku, kembali kurangkai manikmanik air mata ibu yang kesekian
Sedang di bawah atap langit
Di padang angin yang berhembus sunyi
Nyanyian pilu ibu terbang ke setiap pelosok bumi


Malang, 2 Juni 2008


Sastra di Tangan Pembaca


Esai Hafi Zha

“Peminat sastra bebas menentukan kegunaan sastra bagi dirinya.”
(Darmono,1984: 1)

Sastra merupakan suatu yang indah yang menampung kreatifitas pembuat sastra tersebut. Sastra adalah media kaum pecinta sastra untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran mereka sehingga menghasilkan suatu hasil karya sastra. Sastra itu sendiri sangat identik dengan tulisan sehingga adanya istilah kesusastraan, tulisan yang indah.

Cerpen ataupun novel (baca: fiksi) merupakan salah satu bentuk karya sastra. Sebagai sebuah produk, karya sastra tersebut pada hakikatnya sama dengan produk-produk ciptaan manusia yang lain. Namun tidak seperti produk-produk biasa, ia memiliki keberbedaan yang khas dan itu tidak dijumpai pada yang lain. Ia menyimpan titipan pesan pengarangnya yang disisipkan di antara untaian kata-kata yang indah. Pesan itu bisa jelas tersurat, bisa juga sangat sederhana, atau terlalu filosofis atau sufistis sehingga susah untuk ditangkap.

Bagi peminat sastra, dalam menikmati suatu karya sastra masing-masing memiliki tujuan sendiri-sendiri. Mungkin dengan membaca karya sastra ia dapat mengisi waktu luangnya, mungkin karena hobi, atau karena tuntutan kuliah mereka (tugas), atau ingin dia kreasikan ke dalam bentuk lain.

Peminat sastra yang punya daya kreatifitas tinggi tentu dalam menggunakan sastra tidak hanya berhenti saat ia membacanya tapi masih ada tindakan lanjut setelah itu. Ketika ia membaca novel atau cerpen, ia berpikir untuk bisa mengubahnya ke dalam bentuk lain misalnya puisi atau drama. Setelah ia bisa mengubahnya ke dalam bentuk puisi atau drama tentu ia akan mencoba untuk mementaskannya. Ia tidak ingin karya sastra hanya untuk dibaca olehnya sendiri tapi juga dapat dinikmati oleh orang banyak secara bersama-sama dalam pembacaan puisi atau drama.

Begitu juga sebaliknya, ketika suatu sastra masih berbentuk drama atau film bisa diubah menjadi bentuk lain yaitu novel atau cerpen. Peminat-peminat sastra yang lain yang tidak sempat menonton pertunjukan drama mereka akhirnya bisa menikmatinya sendiri. Artinya peminat sastra yang satu dengan yang lainnya dapat bekerja sama dalam melestarikan suatu karya sastra.

Ada juga yang dalam menikmati sastra hanya untuk gengsi-gengsian. Mereka akan dianggap berpengetahuan jika memiliki banyak buku tentang sastra atau hasil karya dari dalam maupun luar negeri. Mereka akan menambah koleksi buku mereka jika mereka kalah bersaing dengan temannya yang jumlah koleksinya lebih banyak. Terkadang ada juga yang benar-benar mengoleksi buku-buku sastra karena ia memang tertarik dengan sastra dan ingin mendalaminya. Semuanya relatif memang jika dilihat dengan mata telanjang.

Sastra memang banyak memiliki kelebihan, yang seperti disebutkan di atas tadi, yaitu curahan hati seorang penulis, gambaran kehidupan masyarakat, ajaran moral dari pengarangnya, dan lain-lain. Semua itu bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam kebutuhan. Tinggal bagaimana kita menyikapi sastra dengan bijak karena ada karya sastra yang terlalu dianggap vulgar oleh kalangan tertentu atau pengkritik karya sastra.


Buku dan Perpustakaan: Elemen Penting Pencapaian Reading Culture dalam Masyarakat Indonesia


Oleh Hafi Zha

Kebutuhan manusia akan informasi tidak bisa lepas dari posisi manusia sebagai makhluk sosial. Hubungan dengan manusia-manusia lain memaksa manusia untuk selalu mendapatkan informasi demi kelangsungan hidupnya. Berbagai jenis informasi tersedia dalam kehidupan manusia, salah satunya yang paling populer adalah buku. Buku telah hadir ke ranah sejarah kehidupan umat manusia sejak manusia mulai mengenal tulisan. Mau tidak mau, kebiasaan membaca terbentuk dan minat terhadap buku meningkat.

Pencarian manusia akan informasi menyebabkan manusia memerlukan berbagai pusat informasi yang nantinya akan memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan. Perpustakaan merupakan salah satunya. Namun melihat kondisi perpustakaan di negeri ini, timbul pertanyaan: masih layakkah perpustakaan disebut sebagai pusat informasi ataukah diposisikan dalam kondisi yang terbuang, dianggap hanya sebagai gudang penyimpan buku? Ironis memang. Tetapi inilah realita perpustakaan di negeri ini. Salah satu fakta yang bisa kita tengok dalam masyarakat adalah kondisi Perustakaan Kediri yang memiliki dinding kusam, koleksi yang minim, serta kegiatan perbukuan yang sepi akibat miskinnya inovasi para penjaganya (Jawa Pos, 9/7/2006). Kita tidak bisa menutup mata begitu saja terhadap kondisi perpustakaan—sebagai tempat alternatif mendapatkan informasi —tersebut maupun perpustakaan di daerah-daerah lainnya, bahkan perpustakaan nasional.

Kondisi Masyarakat Kini
Sebuah negara yang sedang berkembang seperti negeri kita ini memerlukan berbagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan agar bisa lebih maju. Namun kenyataannya, kesadaran masyarakat Indonesia akan informasi masih sangat kurang. Buku sebagai salah satu sumber informasi yang penting menjadi terabaikan oleh masyarakat. Begitu juga halnya dengan perpustakaan. Harusnya kita kembali pada definisi perpustakaan itu sendiri. Pengertian umum tentang perpustakaan dapat diacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002. Dalam kamus ini tertulis:

perpustakaan: 1) tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan pendayagunaan koleksi buku, dsb. 2) koleksi buku, majalah dan bahan kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dibicarakan.

Sulistyo-Basuki mengemukakan bahwa perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah ruangan, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Sementara itu, Dr. Sukarman, salah satu pakar kepustakawanan di Indonesia mendefinisikan perpustakaan sebagai:

Institusi / lembaga pengelola koleksi karya tulis, cetak dan atau rekam sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang diatur dan ditata menurut sistem yang baku dan didayagunakan untuk keperluan pendidikan, penelitian, informasi, dan rekreasi bagi masyarakat.

Perpustakaan sudah seharusnyalah digunakan sebagaimana fungsinya sebagai penyedia informasi. Peningkatan kinerja perpustakaan harus diimbangi dengan peningkatan minat baca masyarakat. Tidak akan ada artinya jika kualitas perpustakaan terus ditingkatkan, sedang minat baca masyarakat tetap berada pada level yang stagnan.

Kondisi masyarakat Indonesia tampaknya menunjukkan kualitas minat baca yang masih kurang, disebabkan oleh berbagai faktor. Budaya bangsa ini memang sejak dulu adalah budaya lisan, bukan budaya untuk membaca. Kultur masyarakat yang masih tradisional juga menyebabkan minat baca yang kurang. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang terbiasa dengan budaya lisan. Lebih parah lagi, ketika bangsa ini mulai menghadapi modernisasi, di mana kita dihadapkan pada era telekomunikasi global. Kita berhadapan dengan era teknologi komunikasi yang lebih praktis, melalui radio, televisi bahkan internet. Jadi kita bisa bayangkan betapa ”hebatnya” bangsa ini melakukan sebuah lompatan besar dalam sejarah perkembangan. Bangsa ini tidak sempat mencicipi era membaca atau budaya baca tapi melompat dari budaya lisan langsung menuju era teknologi komunikasi global. Masyarakat lebih senang duduk di depan televisi berjam-jam daripada menyempatkan diri untuk ”mampir” ke perpustakaan atau paling tidak menyempatkan diri untuk membaca buku apa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Kenyataan pahit harus diterima bangsa Indonesia dalam kaitannya pemberantasan buta huruf demi meningkatkan minat baca. Meskipun persentase penduduk buta aksara setiap tahun cenderung menurun, namun menurut data tahun 2002, diketahui masih ada 18,7 juta penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas yang buta huruf. Hal ini masih diperparah dengan kenyataan, bahwa setiap tahun ada 250-300 ribu siswa kelas 1, 2, dan 3 SD yang putus sekolah (Republika, 24 Januari 2003).

Sementara itu, pada tahun 2000 organisasi International Educational Achievement (IEA) menempatkan kemampuan membaca siswa SD Indonesia di urutan ke-38 dari 39 negara atau terendah di antara negara-negara ASEAN. Dengan kondisi seperti itu, maka tak heran bila kualitas pendidikan di Indonesia juga buruk. Dalam hal pendidikan, survei The Political and Economic Risk Country (PERC), sebuah lembaga konsultan di Singapura, pada akhir 2001, menempatkan Indonesia di urutan ke-12 dari 12 negara di Asia yang diteliti (Republika, 24 Januari 2003).

Permasalahan minat baca tidak bisa lepas dari permasalahan budaya lisan Indonesia dan juga permasalahan klasik yaitu masalah ekonomi. Hal ini menyebabkan rendahnya daya serap atau daya beli masyarakat Indonesia terhadap buku-buku yang diterbitkan penerbit dalam negeri apalagi penerbit luar negeri. Penyerapan buku-buku yang diterbitkan hanya terbatas pada kalangan tertentu saja, seperti kalangan birokrat, akademisi, maupun mahasiswa—yang mempunyai high purchasing power.

Perpustakaan seharusnya menjadi alternatif terbaik di saat daya beli masyarakat yang rendah terhadap buku. Cost yang diperlukan untuk hal ini juga sangat murah, asalkan bersedia meluangkan waktu untuk pergi ke perpustakaan. Perpustakaan merupakan sarana yang baik dalam transfer gagasan, pikiran, dan berbagai hal positif lainnya yang nantinya akan bisa digunakan untuk memberdayakan masyarakat sebagai suatu lembaga yang utuh dan integral.


Keberadaan Perpustakaan dalam Pencapaian Reading Culture
Hadirnya perpustakaan di tengah masyarakat sangatlah penting. Misi utama perpustakaan adalah menyediakan layanan pendayagunaan koleksi bagi pengguna. Terlaksananya misi itu amat tergantung pada kondisi berkembangnya minat dan kegemaran membaca di kalangan masyarakat. Tapi sebaliknya, minat dan kegemaran membaca juga hanya dapat berkembang apabila ada fasilitas berupa tersedianya bahan bacaan yang cukup memadai dan menarik.

Reading culture dapat dicapai dengan hadirnya perpustakaan di tengah lingkungan kehidupan masyarakat—yang sebenarnya akan menuntun mereka untuk mulai membangun kemampuan membaca (reading ability), dan selanjutnya membina kebiasaan membaca (reading habit)—yang pada akhirnya akan menciptakan masyarakat membaca (reading socity) serta masyarakat belajar (learning society). Anak-anak yang dididik untuk gemar membaca akan memiliki kemampuan afektif dan kognitif yang lebih baik daripada anak-anak yang tidak suka membaca. Hal ini disimpulkan oleh Marry Leonhardt, dalam bukunya yang berjudul 99 Cara Menjadikan Anak Anda Keranjingan Membaca, yaitu 1) anak yang membaca mampu menulis, berbicara, dan memahami gagasan lebih baik daripada anak yang tidak membaca; (2) anak yang membaca mempunyai wawasan yang lebih luas, (3) anak yang membaca tidak mengalami krisis kepribadian terhadap kemampuan akademis, (4) anak yang membaca mempunyai kesempatan dan kemungkinan (opportunity and probability) yang lebih luas dalam memahami kehidupan, dan (5) anak yang membaca lebih kreatif dan argumentatif.

Korelasi antara kegemaran membaca dengan kebutuhan masyarakat akan buku di perpustakaan pernah dijelaskan dengan sangat baik oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, sewaktu memberi pengarahan pada Kongres VII Ikatan Pustakawan Indonesia dan Seminar Ilmiah Nasional di Jakarta, 20-23 November 1995. Menurut Menteri, pengelolaan buku sebagai salah satu sumber belajar utama dalam proses pendidikan memiliki peranan yang menentukan dalam upaya peningkatan mutu sumber daya manusia. Sedang upaya peningkatan mutu sumber daya manusia dalam era penduniaan (globalisasi) sangat erat kaitannya dengan upaya penumbuhkembangan kegemaran membaca yang diharapkan dapat mewujudkan suatu masyarakat yang gemar belajar (learning society). Apabila kegemaran membaca masyarakat telah tumbuh dan terbentuk, maka kebutuhan akan buku menjadi meningkat pula, dan perpustakaan akan berfungsi sebagai wahana pencerdasan kehidupan bangsa.

Sebenarnya sejak tahun 1995 secara nasional telah diciptakan kondisi yang mendukung pengembangan minat membaca, yakni dengan dicanangkannya Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca Nasional, tanggal 14 September 1995, oleh Soeharto—yang saat itu masih sebagai Presiden Republik Indonesia. Selanjutnya, dicanangkan pula hari Gerakan Membaca Nasional pada setiap tanggal 12 Nopember oleh mantan Presiden negara ini, Megawati Soekarnoputri sejak tahun 2003. Pencanangan kedua hal tersebut selalu dikaitkan dengan acara/kegiatan perpustakaan, sehingga sesungguhnya ada dasar yang kuat bagi perpustakaan untuk mengembangkan terus program pembinaan minat baca.

Upaya Peningkatan Minat Baca, Daya Beli Buku, dan Kualitas Perpustakaan
Minat baca masyarakat yang rendah, daya beli masyarakat terhadap buku yang juga rendah, dan kondisi perpustakaan yang menyedihkan seakan seperti lingkaran setan yang saling berhubungan dan merugikan siapapun yang berada di dalamnya—merupakan salah satu faktor sulit terwujudnya reading culture di negeri ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya untuk memperbaiki ketiga hal di atas.

Rendahnya minat baca nasional disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan erat dengan rendahnya daya beli buku dan kualitas perpustakaan yang masih di bawah rata-rata. Faktor-faktor itu antara lain rendahnya kemampuan masyarakat untuk membeli buku karena mahalnya harga buku, kurang tersedianya buku-buku terbitan nasional yang bermutu, dan belum dimasukkannya kegiatan membaca dalam kurikulum pendidikan nasional, serta kurang tersedianya perpustakaan yang menyediakan bahan bacaan yang lengkap dan relevan di tengah masyarakat. Kontribusi berbagai pihak dalam meningkatkan minat baca mutlak diperlukan. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam meningkatkan minat baca oleh berbagai pihak dengan berbagai usaha yaitu sebagai berikut:

  1. Melakukan berbagai penyuluhan tentang pentingnya membaca kepada masyarakat. Dapat dilaksanakan oleh pemerintah, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dengan membentuk kelompok membaca atau rumah baca, iklan layanan masyarakat di berbagai media baik cetak maupun elektronik yang dapat meningkatkan semangat masyarakat untuk gemar membaca.
  2. Menumbuhkan minat baca kepada anak sejak usia dini. Hal ini dapat dilakukan oleh para orang tua dengan menyediakan berbagai buku-buku ringan, yang menarik perhatian anak-anak. Selain itu, juga dengan mengurangi ketergantungan anak pada media-media yang dapat menghambat proses pembentukan minat baca pada anak seperti ketergantungan pada televisi.
  3. Mengubah kebiasaan masyarakat yang dulunya terbiasa dengan budaya lisan, menjadi budaya tulis atau baca. Membiasakan masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan pikiran tidak hanya melalui lisan tetapi juga dengan tulisan. Dari tulisan-tulisan ini masyarakat akan terbiasa untuk membaca pendapat atau pikiran orang lain melalui tulisan. Dengan usaha ini, diusahakan minat baca akan terus meningkat seiring dengan berkembangnya pikiran masyarakat.
  4. Peran serta penerbit buku dalam meningkatkan minat baca dapat dilakukan dengan pengemasan buku yang menarik terutama pada segmen anak-anak.
  5. Media massa, baik cetak maupun elektronik, tidak hanya menyajikan iklan layanan masyarakat tentang pentingnya membaca, tapi juga benar-benar melakukan langkah nyata dengan membuat sebuah rubrik tertentu yang membahas tentang perbukuan atau resensi buku (dapat dilakukan oleh media cetak) dan bagi media elektronik dengan cara membuat program acara menarik yang menyajikan promosi mengenai buku-buku tertentu. Program promosi membaca ini dapat dilakukan bekerjasama dengan pihak penerbit buku dan kelompok baca.
  6. Pelaksanaan metode Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di lingkungan sekolah diarahkan pada pencarian secara mandiri oleh siswa berkaitan dengan tugas-tugas tertentu melalui studi pustaka atau membaca buku. Hal ini tidak bisa lepas dari tujan KBK yaitu menerapkan proses kemandirian dalam pembelajaran siswa. Kemandirian dalam sistem KBK inilah yang harusnya menjadi pemacu minat baca siswa, sehingga siswa tidak hanya tergantung pada penjelasan guru yang hanya mengarah pada budaya lisan (mendengar) tapi beralih pada kesadaran aktif siswa untuk membaca.

Jika tadi telah dijelaskan langkah-langkah proaktif dalam usaha meningkatkan minat baca, maka selanjutnya adalah usaha meningkatkan daya beli masyarakat terhadap buku. Diperlukan usaha-usaha dari berbagai kalangan dalam meningkatkan daya serap masyarakat terhadap buku yaitu sebagai berikut.
  1. Pengadaan buku-buku murah namun bermutu dengan harga yang relatif terjangkau oleh semua kalangan, utamanya kalangan masyarakat bawah dan menengah. Bisa dilakukan dengan bazaar murah dan pameran buku oleh penerbit, toko buku, atau bahkan perpustakaan sekalipun.
  2. Mengusahakan ongkos produksi yang murah untuk buku sehingga harga jual buku bisa ditekan, namun tetap memberikan keuntungan atau profit.
  3. Peraturan perizinan penerbitan yang dipermudah oleh pemerintah, namun tetap mengindahkan kaidah-kaidah dan norma-norma masyarakat, sehingga dengan banyaknya penerbit, berarti banyak buku yang diterbitkan dan berarti juga harga buku akan relatif lebih murah dan terjangkau semua kalangan utamanya kalangan masyarakat bawah dan menengah.
  4. Untuk menyiasati lemahnya daya beli buku masyarakat, pemerintah harus melengkapi prasarana dan koleksi buku di perpustakaan yang telah ada. Di samping itu, untuk pemerataan dan akses yang lebih luas, perpustakaan umum baru perlu ditambah, terutama di daerah terpencil. Rasio jumlah buku dan perpustakaan dengan jumlah penduduk di Indonesia sangat jauh sekali. Idealnya, setiap kecamatan bahkan kelurahan atau desa memiliki perpustakaan umum dengan koleksi buku yang memadai dan dikelola secara profesional. (Pikiran Rakyat, 26 Maret 2005)
  5. Usaha yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Erat sekali kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan oleh masyarakat, dimana masyarakat sangat mengutamakan pemenuhan kebutuhan primer terlebih dulu. Kebutuhan akan buku dianggap sebagian besar masyarakat sebagai kebutuhan sekunder bahkan sebagai kebutuhan tersier. Jadi, yang pertama dilakukan oleh negara (pemerintah) adalah peningkatan kesejahteraan, sehingga bila kesejahteraan telah terpenuhi, masyarakat akan mulai berpikir untuk memenuhi kebutuhannya akan buku, karena masyarakat akan sadar betapa pentingnya informasi.
Di saat peningkatan daya beli masyarakat terhadap buku masih terus berjalan, perpustakaan bisa menjadi pilihan alternatif bagi usaha mengembangkan budaya baca. Namun kenyataannya perpustakaan banyak yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bagaimana hal tersebut bisa diatasi, berikut akan dipaparkan metodenya satu per satu.
  1. Pemberdayaan perpustakaan sebagai pusat informasi dapat dilakukan dengann peningkatan fasilitas dan sarana perpustakaan. Tentu saja dengan pemanfaatan yang optimal dan perlu dilakukan pengenalan kepada masyarakat, karena tidak akan ada artinya jika fasilitas lengkap namun hanya dibiarkan saja tanpa ada yang pemanfaatan yang optimal.
  2. Peningkatan kualitas pelayanan perpustakaan terhadap masyarakat akan mempermudah masyarakat dalam pencarian informasi. Perpustakaan tidak bekerja secara pasif, tetapi secara aktif memberikan pelayanan kepada masyarakat, dengan mencari tahu atau menanyakan buku apa yang dibutuhkan. Jadwal kunjungan pun perlu ditinjau ulang, tutupnya perpustakaan setidaknya mengikuti jadwal belajar masyarakat bukannya jadwal kantor pegawai negeri—sebagian besar terjadi akibat dari pengelola perpustakaan adalah para pegawai negeri.
  3. Pengelolaan perpustakaan secara profesional oleh pustakawan yang handal dengan cara merekrut sarjana-sarjana perpustakaan. Kenyataannya saat ini adalah perpustakaan dikelola oleh orang-orang yang kurang kompeten dalam perpustakaan. Dengan hanya bermodal kursus, mengikuti lokakarya atau seminar kepustakawanan, mereka dengan mudah mendapatkan predikat ”pustakawan”. Perlu ada penanganan khusus oleh orang-orang yang ahli dalam bidang perpustakaan yang akan memberikan sentuhan baru bagi perpustakaan—perpustakaan akan dikelola dengan naluri seorang pustakawan yang betul-betul mencintai buku dalam hidupnya.
  4. Mengubah pandangan masyarakat terhadap perpustakaan. Jika selama ini perpustakaan dianggap sebagai ruangan yang penuh dengan buku, harus sepi, sunyi dan harus tenang, maka tugas pustakawanlah untuk mengubah image yang terlanjur melekat pada perpustakaan. Menjadikan perpustakaan seakan-akan sebagai obyek wisata keluarga adalah salah satu pilihan. Dengan merubah suasana dan interior menjadi lebih akrab dan lebih santai dengan berbagai lukisan ceria di dinding merupakan sebuah kemajuan dalam menciptakan suasana perpustakaan yang bersahabat dan ceria.


Bunuh Diri: Sebuah Potret Buram Hidup Wanita


Esai Hafi Zha

Selama beberapa kurun terakhir, Indonesia diwarnai beberapa kasus bunuh diri. Tidak hanya orang dewasa yang melakukan bunuh diri tetapi anak-anak usia sekolah juga nekat untuk mengakhiri hidupnya. Hanya karena diledek temannya gara-gara berasal dari keluarga miskin, anak usia sekolah mengantung dirinya di dalam kamar. Ada juga yang karena uang SPP yang menunggak dan orang tua yang tidak mampu untuk membayarnya. Bahkan karena diamarahi orang tuanya atau merasa tidak disayangi dan diberi perhatian oleh orang tuanya. Ironis memang kasus bunuh diri yang terjadi pada anak-anak yang seharusnya hidup dan dunia anak-anak mereka penuh dengan keceriaan harus berakhir dengan sangat tragis.

Tidak perlu heran jika kasus bunuh diri akhirnya hinggap pada anak-anak karena orang dewasa secara tidak langsung memberikan contoh. Seperti yang terjadi di Bandung pada tanggal 9 Juni 2006, hari Jumat, Anik Koriah Sriwijaya tega membuat nyawa ketiga anaknya, yakni Faras (enam tahun), Nazhif (tiga tahun), dan Umar (tujuh bulan) melayang. Kasus yang sama terulang di Malang pada pertengahan bulan Maret, seorang ibu tega memberi minum racun potas kepada ketiga anaknya yang kemudian ia menyusul ketiga anaknya yang telah terbujur kaku. Masih banyak lagi kasus-kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia, baik yang dilakukan oleh anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Namun, yang paling rentan untuk melakukan bunuh diri adalah para wanita.

Seperti yang terjadi pada Anik Koriah Sriwijaya dan ibu tiga anak di Malang yang tega melakukan perbuatan bunuh diri adalah beberapa contoh dari serentetan kasus bunuh diri yang dilakukan oleh wanita. Jika dilihat dari kehidupan ekonomi mereka, keduanya termasuk golongan ekonomi menengah ke atas. Dalam kehidupan sehari-hari pun tingkah laku mereka seperti orang biasanya dan tidak terlihat memiliki masalah rumah tangga yang besar. Mereka mempunyai suami dan anak-anak yang lucu, sebuah gambaran kehidupan wanita yang indah. Tetapi ternyata kehidupan lahir mereka yang tampak oleh mata kerabat dan tetangga mereka tidak sama dengan kehidupan batin yang mereka alami. Mereka mengalami depresi yang akut dan mengalami puncaknya ketika mereka terbentur pada masalah yang besar dan gawat.

Dalam kasus Anik, setelah melalui proses sidang dia dilepaskan dari segala macam dakwaan. Karena saat melakukan pembunuhan, Anik dalam keadaan depresi. Gejala depresinya sudah terjadi sejak ia duduk sebagai mahasiswa ITB. Begitu juga dengan yang terjadi di Malang, diduga juga karena depresi. Gejala depresi memang sering tidak pernah dapat diketahui dan dirasa oleh penderita. Bahkan, dokter pun tidak dapat mendeteksi kasus depresi sebesar 30 persen. Akan tetapi, gejala utama depresi yang bisa dideteksi seperti perasaan depresif (murung dan sedih), hilangnya minat dan gairah, dan rasa lemas tak bertenaga.

Ketua Kolegium dan Guru Besar Psikiatri FKUI RSCM, Prof Dr Sasanto Wibisono, SpKJ mengatakan gejala utama depresi biasanya diikuti sedikitnya dua gejala tambahan. Misalnya, konsentrasi menurun, rasa tak berguna dan bersalah, gangguan pola tidur, gangguan pola makan atau berat badan, serta rasa putus asa, dan pikiran bunuh diri. Gejala-gejala ini biasanya berlangsung selama dua minggu.

Dari studi Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), depresi menempati urutan keempat penyebab distabilitas pada 2000. Depresi merupakan gangguan mental yang paling banyak menimbulkan beban distabilitas (ketidaktenangan), meningkatkan morbiditas (tingkat yang sakit dan yang sehat), mortalitas (angka kematian), dan risiko bunuh diri. Hal yang sangat ironis adalah penderita depresi berada dalam usia produktif, yakni usia kurang dari 45 tahun. Tidak mengherankan, angka kejadian bunuh diri akibat depresi mencapai 60 persen. Wanita adalah pihak yang paling rentan karena wanita cenderung tertutup dibanding pria ketika menghadapi suatu masalah. Selain itu, wanita lebih menggunakan perasaannya ketika menghadapi masalah sehingga emosi lebih mudah terpengaruh dan rasio tidak dapat bekerja secara maksimal.

Pengobatan
Diperkirakan pada 2020 depresi menempati urutan kedua dalam beban global gangguan kesehatan. Prof Dr Sasanto Wibisono mengatakan sebagian besar gangguan depresi dapat diobati, yaitu dengan obat antidepresi. Saat ini perkembangan obat antidepresi mencapai kemajuan sehingga dapat digunakan dalam menangani komorbiditas (gangguan mental).
Penderita depresi juga bisa melakukan perawatan yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Hal ini bertujuan untuk mencegah kekambuhan penderita. Penanganannya juga harus dilaksanakan secara komprehensif, yaitu ada kerjasama antara lingkungan keluarga dan lingkungan sosial.

Alternatif pengobatan gangguan depresi yang bisa ditempuh oleh penderita depresi adalah dengan penanganan secara komprehensif. Seperti yang dikemukakan oleh Philip Ninan, Vice President Neuroscience, bahwa saat ini paradigma pengobatan depresi bergeser dari pengendalian gejala menuju penanganan secara komprehensif. Paradigma ini lebih memfokuskan pada identifikasi pasien dengan faktor risiko kekambuhan dan pengelolaan proses depresi.
Ada beberapa dimensi yang penting dalam pengobatan dengan paradigma baru ini, yaitu dimensi obat, waktu, lingkungan keluarga, dan personal (faktor genetik). Diperlukan juga dukungan dari masyarakat untuk tidak memberikan stigma pada orang depresi dan juga dukungan keluarga untuk kesembuhan penderita.

Salah satu bentuk pengobatan gangguan depresi yang lain yaitu terapi depresi. Pengobatan ini merupakan terapi menyeluruh untuk meningkatkan kualitas hidup, mengembalikan peran dan fungsi, mengurangi risiko kekambuhan, menghilangkan gejala, dan lainnya.

Sudah waktunya wanita-wanita di Indonesia, khususnya, untuk keluar dari jeratan depresi. Mulai membuka diri ketika menghadapi suatu permasalahan dan berpikir rasional, tidak mengedapankan perasaan. Wanita adalah salah satu kunci keberhasilan suatu negara, pengokoh kehidupan laki-laki, sekaligus pencetak generasi penerus negeri ini. Jika ingin generasi penerus negeri ini berkualitas dan kuat menghadapi permasalahan, tidak mengakhiri hidup dengan minum racun atau gantung diri, maka para wanita berusaha untuk memperbaiki dirinya dan meningkatkan kualitas hidupnya dengan pola hidup dan berpikir yang sehat.***


Jalan Pulang


Drama Hafi Zha & Rista RL

PARA TOKOH


1. Anna, gadis manis yang pendiam dan berprestasi di sekolah tapi kuper.
2. Kikan, teman sekelas Anna. Gadis cantik, paling kaya dan popular di sekolah juga sombong.
3. Iren, teman sekelas Anna. Gadis tomboy yang satu gank dengan Kikan.
4. Sierly, teman sekelas Anna. Gadis yang dijuluki Kikan dan Iren Nona Lemot.
5. Erick, teman lelaki Anna. Anak orang kaya dan sebenarnya playboy.
6. Papa Anna, bersikap keras dan menuntut sangat tinggi kepada Anna.
7. Mama Anna, kurang memerhatikan anaknya karena sibuk berkarir.
8. Ibu Mira, wali kelas Anna yang perhatian kepada siswa-siswanya.
9. Angel, gadis remaja yang menderita kanker otak.


ADEGAN 1

PAGI HARI. DI SEKOLAH, TEPATNYA DI DALAM KELAS SEBELUM PELAJARAN DIMULAI. KELAS MASIH KOSONG LALU MASUKLAH ANNA YANG TANPA BICARA LANGSUNG DUDUK DI BANGKUNYA. ANNA MEMAKAI KACAMATA MINUS. IA LALU MENGELUARKAN BUKU, MEMBACANYA, LALU SIBUK MENULIS. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN, KIKA DAN GENGNYA MASUK. AWALNYA MEREKA MENGOCEH SENDIRI TANPA MEMERDULIKAN ANNA.


Iren:
Ki, kamu jadi beli sepatu yang di butik lusa? (MENDEKAT KE BANGKUNYA, LALU MENARUH TAS DENGAN SEENAKNYA DI MEJA)

Sierly:
Sepatu yang mana sih, Ir? (SAMBIL DUDUK DI BANGKU DAN MELETAKKAN TASNYA DI MEJA)

Iren:
Aduh… nona lemot, sekarang pikun lagi! (CEMBERUT DAN BERKACAK PINGGANG) Yang itu lho, waktu kita jalan bareng ke mall terus mampir ke butik terkenal itu lho!

Sierly:
Oo…itu… (MENGANGGUK-ANGGUKKAN KEPALANYA DENGAN WAJAH TAMPAK BLOON)



Kikan:

Oh…itu. Ya jadi lah! Kemarin aku ke sana lagi bareng Tian. Kata dia, aku pantes banget makai tu sepatu. So…walau agak mahal, nggak pa pa lah… (MASIH TETAP MENYANDANG TAS DI BAHUNYA DAN BERDIRI DI SAMPING IREN DAN SIERLY)

Iren:
Kalo gaun merah marun yang kemarin, kamu jadi mau beli? Kalu aku, lebih suka kemeja hitam di distro yang baru buka itu. Wih…keren-keren banget koleksinya!

Kikan:
Jadi beli lah… Besok aja kali. Kalau kamu mau, kita bareng aja. Habis ke butik, kita ke distro. Aku traktir deh…

Iren:
Ih…beneran nih, Ki?

Kikan:
Buat apa aku bohong? Sier, kamu juga. Kalau kamu mau nambahin koleksi aksesoris kamu, sekalian aja hunting. Ada banyak koleksi aksesoris baru di butik langgananku.

Sierly:
Wah…makasih, Ki. (LANGSUNG PASANG MUKA CERIA)

Iren:
Kamu emang bisa aja nyenengin teman, Ki. (MENGACUNGKAN DUA JEMPOL KE ARAH KIKAN)

Kikan:
Ya iya lah…apa sih yang nggak bisa oleh Kikan?

Sierly:
Ada! (DENGAN WAJAHNYA YANG POLOS) Kikan nggak bisa mengerjakan soal fisika dan matematika kemarin.

Kikan:
Ih…ni anak. Kujitak lho! (PURA-PURA MENJITAK KEPALA SIERLY) Kamu juga, bloon…!

SESAAT IREN SADAR AKAN ANNA YANG DUDUK DI MEJA SEBELAH. ANNA MASIH SAJA TEKUN MENGERJAKAN TUGAS. IREN LALU MENDEKATI ANNA.



Iren:

Hei, kutu buku! (SAMBIL MEMUKUL MEJA ANNA, MEMBUAT ANNA KAGET) Ngapain kamu pagi-pagi sudah datang? Pake belajar lagi. Nggak bosan apa, belajar terus?

Kikan:
(BERDIRI DI SAMPING IREN) Hei, mata empat. Kamu pernah ngaca nggak sih? Kamu tu sudah kuper, jelek lagi! Liat nih kita-kita…cantik…trendi…en gaul.

Anna:
(MENDONGAKKAN KEPALA, MEMANDANG KEDUANYA AGAK TAKUT) Mm…maksud kamu apa, Ki?

Iren:
Heh…denger ya! Hidup tuh bukan cuma ngurus matematika doang. Kamu nggak pengen apa nikmatin hidup?

Anna:
Nikmatin hidup? Gimana caranya, Ir?

Kikan:
Kalau kamu mau, kita bisa ajarin. Tenang aja, semua fasilitas aku yang nanggung!

Anna:
Bb…benarkah?

Kikan:
(TERSENYUM LICIK) Tapi, ada syaratnya…

Anna:
Syarat? Syaratnya apa?

Kikan:
(MENDEKATKAN WAJAHNYA KE WAJAH ANNA) Kamu harus mengerjakan semua PR aku! (KEMBALI TEGAK) Dengan begitu, aku akan ajak kamu ke tempat-tempat yang menyenangkan, belanja, senang-senang… Bersedia nggak?

Anna:
Tapi…aku takut kalau ketahuan Papa. Papa pasti marah.

Iren:
Alah…! Nggak perlu takut. Kamu perginya pura-pura mau belajar ma kita-kita. Beres kan…

Anna:
(TERDIAM SEJENAK. SEJURUS KEMUDIAN IA MENGANGGUKKAN KEPALANYA) Emm…baiklah.

Kikan:
OK! Besok sepulang sekolah, kita keluar bareng (TERSENYUM) Yuk, girls…kita ke kantin dulu aja. Ngapain di kelas? Telat juga nggak pa pa (KELUAR KELAS SETELAH MENARUH TASNYA DI BANGKU, DISUSUL KEDUA TEMANNYA. TINGGAL ANNA SENDIRIAN DI KELAS)

SELANG BEBERAPA SAAT, ERICK MASUK. ERICK BERPENAMPILAN NECIS. RAMBUTNYA DIBELAH PINGGIR.

Erick:
Pagi, Cinta! Rajin banget?

Anna:
(MENOLEH KE ARAH ERICK. TERSENYUM MALU-MALU) Oh, Erick. Ini tugas kimia kamu masih kurang sedikit lagi.

Erick:
(DUDUK DI SAMPING ANNA) Ah, cintaku. Kamu memang baik banget.

Anna:
Udah…nggak usah berlebihan begitu.

Erick:
Ya udah, kalau begitu aku mau ngajak kamu ke kantin sekarang. Kita sarapan berdua yuk.

Anna:
Tapi, sebentar lagi bel masuk, Rick. Nanti kita telat.

Erick:
Alah…sebentar aja kan nggak pa pa, sayang. Yuk! (MENARIK TANGAN ANNA. ANNA TAK BISA MENOLAK. AKHIRNYA MEREKA BERDUA PERGI KE KANTIN)


ADEGAN 2

NARATOR: BEBERAPA BULAN TELAH BERLALU DARI HARI ITU. ANNA MULAI BERUBAH PERILAKUNYA. IA MULAI IKUT-IKUTAN KIKAN DAN KEDUA TEMANNYA RAJIN KE DISKOTIK. PENAMPILAN ANNA PUN SUDAH BERUBAH. IA MENJADI LEBIH TRENDI DAN KACAMATA MINUSNYA YANG KUNO DIGANTI DENGAN KACAMATA MINUS YANG LEBIH GAYA. HUBUNGANNYA DENGAN ERICK PUN SEMAKIN DEKAT AKHIR-AKHIR INI. BAHKAN ANNA SERING KE RUMAH ERICK KETIKA ORANGTUA ERICK TIDAK BERADA DI RUMAH. DI SISI LAIN, PRESTASI BELAJAR ANNA MENURUN. IA TAK BISA LAGI KONSENTRASI BELAJAR KARENA ENERGINYA HABIS IA PAKAI UNTUK BERSENANG-SENANG DENGAN KIKAN, SIERLY, DAN IREN.

AKHIR-AKHIR INI ANNA TAMPAK GELISAH. IA RESAH KARENA IA TERLAMBAT DATANG BULAN. SETELAH MENCOBA-COBA MELAKUKAN TES PACK, BETAPA TERKEJUTNYA DIA KARENA IA POSITIF HAMIL. IA SEMAKIN TIDAK BISA BERKONSENTRASI DENGAN SEKOLAHNYA.

DI SEKOLAH, DI DALAM KELAS, WAKTU ISTIRAHAT.

ANNA MASUK KE DALAM KELAS DENGAN WAJAH SANGAT MURUNG DAN PUCAT. IA SEHABIS DARI KAMAR MANDI. IA KETAKUTAN KARENA DI DALAM PERUTNYA ADA JANIN, HASIL PERBUATANNYA DENGAN ERICK.


Anna:
(BERBICARA KEPADA DIRINYA SENDIRI) Bagaimana ini? Aku takut kalau ketahuan sama Papa dan Mama. Pasti mereka marah besar. (MENUTUP WAJAHNYA DENGAN KEDUA TANGANNYA. MENANGIS TERISAK-ISAK) Erick kamu di mana sih sekarang? Kamu kok nggak pernah masuk sekolah sejak aku nelpon kamu. Sekarang HP-mu nggak pernah akitf. (SAMBIL MENGGIGIT-GIGIT BIBIRNYA) Duh…aku takut. Apa yang harusnya aku lakukan.

TIBA-TIBA KIKAN, IREN, DAN SIERLY MASUK. MEREKA MELEWATI MEJA ANNA TANPA MENYAPANYA. ANNA BURU-BURU MENYAPU AIRMATANYA. IA TAKUT KETAHUAN KETIGA TEMANNYA TENANG KEHAMILANNYA.

Anna:
Eh, teman-teman…(TERSENYUM)

Kikan:
(TIDAK MENJAWAB SAPAAN ANNA, HANYA MELIRIK SINIS)

Iren:
Eh, siapa sih kamu? Maaf ya. Bos kita udah bosan tuh sama kamu!

Kikan:
Iya. Dulu kamu pinter, bisa aku andalin. Tapi sekarang, kamu udah bodoh. Nilai kamu jelek-jelek, lebih bagus punya kami. So…sekarang kamu udah nggak berguna lagi! Tau nggak sih?

Anna:
Tapi, katamu dulu, aku teman kalian?

Sierly:
(TAMPAK KASIHAN DENGAN ANNA) Maaf ya Anna…Kikan sudah nggak suka sama kamu….

Iren:
Ih…(MEMOTONG PEMBICARAAN SIERLY) Ngapain sih kamu minta maaf segala sama dia? Udah, biarin aja!

LALU MEREKA BERTIGA MENINGGALKAN ANNA. MEREKA KEMBALI BERCANDA TANPA MEMERDULIKAN ANNA. ANNA TERTUNDUK SEDIH. MENAHAN TANGISNYA KARENA KINI IA DIJAUHI KETIGA TEMANNYA. TAK LAMA KEMUDIAN, IBU MIRA MASUK KE DALAM KELAS. MENDEKATI TEMPAT DUDUK ANNA. KIKAN DAN KEDUA TEMANNYA TERKEJUT MELIHAT IBU MIRA ADA DALAM KELAS. MEREKA LANGSUNG KELUAR KELAS. SEDANG ANNA BERUSAHA MENGHAPUS AIR MATANYA.

Ibu Mira:
(MENATAP KEPERGIAN KETIGA SISWANYA. MELIHAT KE ARAH ANNA) Anna, Ibu mau bicara sama kamu. Bisa kan?

Anna:
(GUGUP DAN MEMANDANG HERAN KEA RAH IBU MIRA) Bisa, Bu. Bicara apa, Bu?

Ibu Mira:
(DUDUK DI SEBELAH ANNA. MEMERHATIKAN WAJAH ANNA YANG PUCAT) Kamu kenapa, Anna? Wajah kamu tampak pucat sekali, kamu sakit?

Anna:
(DENGAN GUGUP DAN SALAH TINGKAH) Eee…nggak, Bu. Saya nggak sakit. (MEMBETULKAN LETAK KACAMATANYA)

Ibu Mira:
Belakangan ini Ibu memerhatikan kamu, Anna. Kamu tampak gugup dan gelisah, juga tampak melamun waktu pelajaran Ibu. Tapi tidak hanya pelajaran Ibu, guru-guru yang lain juga mengeluh seperti itu. Kamu sudah tidak bersemangat dalam mengikuti pelajaran dan nilai-nilai kamu juga turun drastis. (BERHENTI SEJENAK. MENGHELA NAFAS)

Anna:
(TERTUNDUK DALAM. MENANGIS TERTAHAN)

Ibu Mira:
Anna, Ibu tidak pengen melihatmu terus begini. Ibu ingin membantumu. (MELIHAT KE ARAH ANNA. MENYENTUH BAHU ANNA) Anna, kamu menangis? Ada apa, Anna? Ceritakan pada Ibu. Ibu siap membantumu. Kamu sedang ada masalah? Jangan sampai hal itu kamu pendam sendiri dan mengganggu pelajaran kamu. Anna…(MENCOBA MENDESAK ANNA)

Anna:
(MASIH DENGAN TERISAK. MENENGADAH KEPADA IBU MIRA) Terima kasih, Bu. Ibu perhatian kepada saya. Tapi…saya belum siap untuk bercerita sekarang, Bu. Saya mohon jangan desak saya, Bu.

Ibu Mira:
(MENGHEMBUSKAN NAFAS) Baiklah, Anna. (BANGKIT BERDIRI DI SAMPING ANNA) Tapi ingat, Anna, Ibu siap setiap saat jika kamu ingin bercerita. Ibu siap membantumu, Anna.

Anna:
Iya, Bu. Terima kasih, Bu. Saya senang sekali mendapat perhatian Ibu. (MENGELAP PIPINYA YANG BASAH DENGAN SAPU TANGANNYA)

Ibu Mira:
Baiklah, Ibu kembali ke kantor dulu. (BERJALAN KELUAR KELAS)

TAK BERAPA LAMA KEMUDIAN, ANNA MENGELUARKAN SESUATU DARI TASNYA. IA MENOLEH KE KANAN DAN KE KIRI. BERUSAHA MEYAKINKAN DIRI BAHWA TIDAK ADA TEMAN-TEMANNYA DI KELAS. DI PEGANGNYA PISAU LIPAT DENGAN TANGAN KANANNYA. IA MEMEJAMKAN MATANYA DAN MELETAKKAN PISAU LIPAT DI PERGELANGAN TANGAN KIRINYA. DENGAN MENANGIS, ANNA MENYAYAT PERGELANGAN TANGANNYA. TIBA-TIBA SIERLY MASUK KE DALAM KELAS DAN MELIHAT ANNA SUDAH PENUH DENGAN DARAH. IA MENJERIT HISTERIS.

Sierly:
Aaaaaaaa……………..!!!! Anna…!!!

TEMAN-TEMANNYA BERDATANGAN, TERMASUK IBU MIRA. MEREKA PUN MEMBAWA ANNA KE RUMAH SAKIT.


ADEGAN 3

MALAM HARI. DI RUMAH SAKIT. PAPA DAN MAMA DUDUK DI DEPAN LORONG DI DEPAN KAMAR ANNA. PAPA DUDUK DENGAN MUKA DITUTUP DENGAN KEDUA TANGANNYA. SEDANG MAMA BERDIRI DI SAMPINGNYA DENGAN WAJAH MENAHAN KESAL. MEREKA BERDUA BERSITEGANG.


Mama:
Ini semua salah Papa (DENGAN NADA KETUS)

Papa:
(MELIHAT KE ARAH MAMA DENGAN TERKEJUT) Apa?!! Aku yang salah? Kamu sebagai ibunya pun juga salah. Seharusnya kamu meluangkan waktu untuk anakmu itu!

Mama:
Anakku…?!! Anna juga anakmu, Pa! Papa tega berkata seperti itu di saat seperti ini. Anna butuh perhatian kita, Pa. Coba Papa ingat, Papa yang terlalu keras dengan Anna, terus memaksanya untuk terus belajar, belajar, dan belajar (DUDUK DI SAMPING PAPA) Papa nggak pernah mengijinkannya untuk keluar dengan Mama. Padahal Mama mau mengajaknya untuk bersenang-senang. Ya..sudah Mama pun akhirnya larut dengan bisnis Papa. Sekarang semua terjadi begini. Apa Papa nggak menyesal. (TERDIAM. TIBA-TIBA MENANGIS) Mama nyesel, Pa.

Papa:
(MEMANDANGI ISTRINYA DENGAN WAJAH SEdih) Papa juga, Ma (DENGAN SUARA PELAN)

Mama:
(MENOLEH KE ARAH PAPA. MENGUSAP AIR MATANYA) Pa…kita sama-sama salah. Kasihan Anna. Ia butuh kita saat ini. Jangan marahi Anna, Pa atas kejadian ini. Anna pasti sangat terpukul dan menyesal.

Papa:
Iya, Ma. Papa sayang sekali dengan Anna. Papa sadar cara yang Papa pakai salah dalam mendidik Anna. Semoga Papa masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan Papa, Ma.

Mama:
Mama juga, Pa. Mama ingin lebih banyak di rumah setelah kejadian ini.

Papa:

Ya sudah, Ma. Sudah larut malam. Mama pulang dulu. Biar Papa yang menunggui Anna di sini. Besok saja Mama ke sini lagi.

Mama:
Baiklah, Pa (BANGKIT MENYANDANG TAS TANGANNYA) Semoga anak kita bisa sadar ya, Pa.

Papa:
Iya, Ma. Semoga (BERJALAN MENGGANDENG MAMA KE LUAR RUMAH SAKIT)

NARATOR:
LORONG RUMAH SAKIT SEMAKIN SEPI. MASUKLAH SESOSOK GADIS KECIL DI IRINGI SEORANG GADIS YANG BERPAKAIAN PUTIH. SEJENAK MEREKA MEMBISU MENGAMBIL DUDUK DI BANGKU TUNGGU LORONG RUMAH SAKIT.

Anna:
Kita emang mau kemana, Angel?

Angel:
Kita akan menempuh perjalanan jauh, Kak. Jadi siapkan saja diri kakak. Kakak udah siap kan?

Anna:
Perjalanan jauh? Maksudnya apa, Angel?

Angel:
(TERSENYUM MANIS KE ARAH ANNA) Perjalanan menuju tempat abadi kita, Kak. Kakak udah siap kan?

Anna:
(WAJAHNYA YANG PUCAT SEMAKIN PUCAT. ANNA TERDIAM SESAAT) Kakak belum siap, Angel.

Angel:
(TIBA-TIBA BERDIRI, MENGHADAP ANNA DENGAN BADAN TEGAK) Lalu kenapa Kakak berani banget bunuh diri?

Anna:
Kakak bingung, Angel. Kakak nggak tahu harus ngapain. Yang ada dalam pikiran Kakak hanya pengen mati. Buat apa Kakak hidup lagi jika nggak ada yang merhatiin Kakak. Papa, Mama, teman-teman nggak ada yang mau deket sama Kakak. Jadi, buat apa lagi hidup… (MENANGIS TERISAK-ISAK)

Angel:
Lalu apa yang pengen Kakak lakukan sekarang?

Anna:
Kakak pengen kembali. Kakak belum siap pergi. Kakak pengen ketemu Papa dan Mama. Kakak pengen minta maaf sama mereka.

Angel:
Kak….(DUDUK KEMBALI. MENYENTUH PUNDAK ANNA) Kakak tahu nggak. Sebenarnya Angel pun nggak pengen pergi dari belaian Papa. Tapi…mungkin ini lebih baik daripada Angel hidup dengan penyakit yang perlahan-lahan memakan tubuh Angel. Angel nggak bisa berbuat apa-apa.

Anna:
Maksud Angel apa?

Angel:
Memang sudah tiba waktunya buat Angel pergi. Angel sudah berusaha untuk melawan penyakit ini. Ketika bertemu dengan Kakak, Angel merasa senang sekali. Angel nggak akan kesepian. Tapi, ternyata Kakak belum siap.

Anna:
Maafkan Kakak. Tapi Kakak nggak tahu apakah Kakak masih diberi kesempatan untuk itu.

Angel:
Kalau Kakak masih diberi kesempatan, jangan pernah lagi merasa sendirian. Hargai sisa waktu yang udah diberikan. Kakak harus memulai hidup yang baru, yang penuh arti. Jangan sia-siakan itu ya Kak.

Anna:
Iya, Angel. Tapi, Angel juga harus yakin kalau Angel masih bisa sembuh. Kita kembali sama-sama.

Angel:
(MENGGELENG LEMAH) Nggak bisa, Kak. Angel nggak bisa kembali. Semua sudah diputuskan. (BANGKIT DARI DUDUKNYA)

Anna:
Angel mau kemana? (MEMEGANG TANGAN ANGEL, MENCOBA MENAHANNYA)

Angel:
Sudah tiba waktunya, Kak. Kakak jangan sedih ya.

Anna:
Angel…. Angel… Angel…. (MEMANGGIL BERULANG-ULANG KEPADA ANGEL YANG PERGI)

NARATOR:
AKHIRNYA, ANNA KEMBALI KE DUNIA. SEDANG ANGEL, GADIS CILIK YANG MENDERITA KANKER OTAK, PERGI MENINGGALKAN KELUARGANYA. WALAUPUN HANYA SEBENTAR, KEJADIAN YANG DIALAMI ANNA BERSAMA ANGEL MEMBERI KENANGAN TERSENDIRI BAGI ANNA. IA SADAR DAN BERTEMU KEMBALI DENGAN PAPA DAN MAMA.

The End


Senin, 19 Juli 2010

Aspek Sosiologi dan Psikologi dalam Roman Atheis


PENDAHULUAN

Menurut Ajip Rosidi (1982), Atheis adalah sebuah roman yang melukiskan kehidupan dan kemelut manusia Indonesia dalam menghadapi bebrbagai pengaruh dan tantangan zaman. Roman ini bentuknya sangat istimewa dan orisinil. Sebelumnya tidak pernah ada roman seperti itu di Indonesia, baik stuktur maupun persolannya. Flash-back bukan pertama kali digunakan dalam penulisan roman Indonesia. Cara Achdiat mempergunakan flash-back itu sangat menarik. Atheis dibuka dengan suatu adegan “si-aku” pengarang bersama Kartini mencari berita tentang Hasan. Hasan ketika itu sudah mati. Kemudian “si-aku” mengisahkan pertemuan dengan Hasan yang memberikan karangan berasarkan pengalaman hidupnya. Maka mulailah cerita Hasan sampai hubungannya dengan orang tuanya mencapai krisis. Sesudah itu kembali “si-aku” tentang pengalaman Hasan selanjutnya sampai ia mati ditembak Jepang. Hasan dalam kisah pengalamannya menggunakan gaya-aku pula, sehingga di dalam roman ini ada dua “aku” yaitu “si-aku” pengarang dan “si-aku” Hasan.

Mengapa buku ini dinamakan Atheis? H. B. Jassin (1949) berpendapat karena memang ceritanya berputar pada ada atau tidak adanya Tuhan. Yang theis betul-betul ialah Raden Wiradikarta dan kiai-kiai. Yang atheis betul-betul adalah Rusli dan Anwar. Lalu Hasan? Hasa yang terombang-ambing lebih celaka dari atheis. Theis yang tulen dia sudah bukan dan ini menyebabkan dia lebih-lebih merasa sebagai atheis meskipun seorang atheis belum menganggapnya sebagai atheis.

Religiusitas dalam satra Indonesia terlihat dalam roman ini. Roman Atheis membawakan pengalaman religiusitas yang unik. Hasa yang dibesarkan dari keluarga Raden Wiradikarta yang Islam-orthodox, mengalamiperang batin dengan isme-isme modern dari Barat. Tokoh Rusli dalam cerita yang Marxis, maupun Anwar yang anarkhis, selama bergaul dengan tokoh utama dalam roman menjadikan roman yang berbobot dalam sejarah roman dan novel sastra Indonesia.

SINOPSIS

Hasan seorang putera pensiunan mantri guru yang bertempat tinggal di kampung Panyeredan, di lereng gunung Telaga Bodas. Raden Wiradikarta, demikian nama ayah Hasan. Sebelum pensiun, Raden Wiradikarta pernah berdinas di daerah Tasikmalaya, Ciamis, Banjor, Tenggarong, dan beberapa tempat kecil yang lain. Ia terkenal sebagai pemeluk agama Islam yang taat, saleh, dan alim. Dia memang keturunan orang-orang yang kuat imannya. Atas nasihat temannya, Haji Dahlan, ia beserta istrinya berguru ilmu tarekat kepada seorang kiai di Banten. Kehidupan sehari-hari rumah tangganya diwarnai dan bernafaskan ajaran-ajaran agama yang dipeluknya.

Sebagai anak satu-satunya yang masih hidup dari keluarga Raden Wiradikarta, Hasa sejak kecil mendapat pendidikan agama secara mendalam. Ibunya selalu melatih Hasa menghafal ayat-ayat Alquran. Oleh karena itulah, ia sejak kecil sudah dapat menghafal syahadat, shalawat, surat Al-Ikhlas, Al-Fatihah, dan sebagainya. Hasan tumbuh menjadi anak yang patuh pada orang tua dan taat kepada agama. Salat dan berpuasa sering dijalankannya. Cerita tentang surga, neraka, dan dosa selalu ia dengar pada saat-saat menjelang tidur, baik dari ibunya maupun dari Siti, pembantunya. Ketika Hasan meningkat dewasa, ia mengikuti jejak orang tuanya untuk memiliki ilmu sareat dan tarekat. Ia berguru ke Banten. Semenjak menganut ajaran mistik, Hasan semakin rajin melakukan ibadat. Sebagai akibatnya, pekerjaan kantornya sering terbengkalai. Dari teman-teman sekantornya ia mendapat gelar ”Pak Kiai”. Selain dari itu, kesehatan badannya tidak pernah diperhatikan, bahkan hidupnya dikendalikan oleh hal-hal yang tidak rasional, misalnya ia pernah mandi 40 kali semalam, tanpa menggunakan handuk sebagai pengering badannya. Tidak mustahil apabila akhirnya ia terkena penyakit tbc. Ia pernah berpuasa tujuh hari tujuh malam terus-menerus dan selama tiga hari tiga malam mengunci diri di dalam kamar tanap makan, minum, dan tidur. Iman yang tampaknya kuat, yang tidak disertai oleh kesadaran yang tinggi dan diimbangi oleh pengetahuan serta pengalaman hidup yang luas ternyata tidak dapat bertahan terhadap segala pergolakan, perkembangan hidup dalam masyarakat. Hasan sebagai produk dari pendidikan lingkungan masyarakat agama yang tertutup, fanatik, ia berkembang menjadi manusia yang fanatik, sempit pandangan hidup, dan kurang pengalaman. Ia melihat segala macam kehidupan dalam masyarakat dengan menggunakan ukuran-ukuran kaca mata ajaran agama. Hal ini sangat membatasi gerak dan wataknya sehingga ia kurang memahami masalah-masalah kehiduopan yang sebenarnya.

Kehadiran Rusli dan Kartini dalam kehidupan Hasan bagaikan badai yang melanda pohon talas. Walaupun tidak sampai tumbang, condonglah pohon yang tiada berakar tunggang itu, sejak tiupan pertama. Hasan yang telah biasa hidup dalam keadaan atau situasi yang mistis, Rusli dan Kartini yang menurut penglihatannya menarik, baik mengenai cara berpakaiannya, sikap pergaulan maupun ilmu pengetahuannya, bahkan sampai pada ideologi yang dianutnya. Semua serba menarik karena dianggap hal yang baru dan ditemuinya dalam suasana yang romantis. Hasan jatuh cinta kepada Kartini karena Kartini mirip sekali dengan Rukmini bekas pacarnya. Ia menginginkan hidup di samping Kartini dalam satu rumah tangga yang berbahagia. Rasa cinta itu;ah yang memupuk kelemahan Hasan dan merupakan awal dari segala perubahan dalam hidupnya. Ia berusaha menyenangkan dan menarik hati Kartini bahkan ia rela mengorbankan segala-galanya. Imannya luntur, hubungan dengan orang tuanya menjadi putus.

Hanyutlah Hasan dalam kehidupan yang dianut oleh Kartini dan kawan-kawannya: modern, bebas, dan berdasarkan paham Marxis.

Walaupun diketahui banyak tingkah laku Kartini yang sebenarnya bertentangan dengan jaran agama Islam, Hasan tetap mencintainya. Semua gerak-gerik, tingkah laku Kartini diterima dengan senang, dengan harapan agar Kartini tetap dekat dengannya.

Di tengah kembang-kempisnya harapan Hasan untuk hidup bersama denag nKartini, muncullah Anwar yang mencoba-coba menaruh hati juga kepada Kartini. Perasaan cemburu Hasan mendorongnya untuk menutupi segala kelemahannya. Kini tidak ada hal yang dianggap pantangan lagi oleh Hasan, seperti bioskop, makan masakan Cina, bergaul dengan wanita yang bukan muhrimnya, mengikuti pertemuan yang memperdalam Marxisme, bahkan menyangkal adanya Tuhan.

Kartini ditinggal mati oleh suaminya adalah seorang janda yang mendampingi kasih sayang seorang suami. Bagi dia Rusli bukanlah pria yang menjadi harapannya karena Rusli menyerhkan hidupnya untuk kepentingan politik. Demikian pula Anwar tidak menarik baginya, sedangkan Hasan laki-alki yang polos, mencurahkan kasih sayangnya dengan sepenuh hatinya dan mendapat sambutan baik dari Kartini. Akhirnya mereka kawin. Hidup bersama dilaksanakan di rumah Kartini.

Perkawinan mereka ternyata tidak membuahkan kebahagiaan seperti yang mereka dambakan. Kartini meneruskan kebiasaan hidup bebasnya, pergi tanpa suaminya. Ia memperdalam perassan cemburu Hasan kepadanya. Di samping itu, Hasan selau dihantui oleh larangan ayahnya untuk tidak kawin dengan Kartini dan diharapkan kawin dengan Fatimah.

Pada suatu hari terjadilah pertengkaran, yaitu ketika Hasan menunggu-nunggu kedatangan Kartini; Kartini datang bersama-sama denga nAnwar. Memuncaklah marah Hasan, dan Kartini ditempelengi; terjadilah perpisahan.

Sejak terjadi pertengkaran itu Kartini meninggalkan rumahnya. Ia pergi tanpa tujuan. Di jalan ia bertemu dengan Anwar. Atas bujukan Anwar, Kartini mau diajak bermalam di suatu hotel bersama-sama dengan Anwar. Karena Anwar berusaha untuk memperkosanya, Kartini lari dari penginapan itu dengan meneruskan perjalanannya ke Kebon Manggu.

Dalam perjalanan hidup selanjutnya, Hsan akhirnya ingat kembali pada ajaran agama yang pernah diberikan oleh orang tuanya. Dia menyesal atas kelalaiannya selama ini, ia mengutuki teman-temannya yang telah membawanya ke jalan yang sesat, jalan yang menyimpang dari agamanya, bahkan jalan yang bertentangan dengan agama. Dia insaf dan sadar, ia berusaha kembali ke jalan hidup semula, hidup dengan berpedang pada ajaran agama Islam.

Mendengar kabar bahwa ayahnya sedang sakit parah, Hasan pulang menjenguknya. Ia bertemu dengan ayahnya yang sudah dalam keadaan payah. Dalam keadaan yang sudah kritis, menjelang ajalnya, ayahmya masih sempat mengusir Hasan yang menungguinya supaya tidak berada di dekatnya. Setelah Hasan keluar dari kamar tidur, ayahnya meninggal denagn tenang. Sejak itu, Hasan telah kehilangan segal-galanya, istrinya, ayahnya, dan hari depannya bahkan tujuan hidupnya.

Ketika pulang ke Bandung, ke rumah Kartini, terjadilah kusukeiho. Ia terpaksa harus mencari tempat berlindung. Ia berlindung di suatu lubang perlindungan bersama-sama denag orang-orang yang senasib. Di tempat perlindungan itulah terngiang-ngiang suara ayahnya di hatinya, suara ayng menasihati, memarahi, mengutuk-ngutuk perbuatannyayang telah menyimpang dari ajraan agama Islam. Hal ini membuka hatinya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan lagi. Sementara itu, Hasan yang telah diserang penyakit tbc makin parah. Penyakit tbc-nya kambuh; ia merasa tak kuat melanjutkan perjalanan, dan mencari penginapan yang terdekat untuk beristirahat.

Dari daftar tamu di penginapan, tempat ia akan bersitirahat, ditemukan nama Kartini dan Anwar. Ia teringat pada saat Kartini pergi dari rumahnya. Setelah mendapat penjelasan dari pelayan hotel dan mengetahui suasana di situ, Hasan yakin bahwa Kartini telah berbuat serong dengan Anwar. Meledaklah amarahnya, ia lari keluar pada malam gelap untuk membalas dendam. Sementara itu, serene mengaung-ngaung tanda ada bahaya. Semua lampu dimatikan, setiap orang mencari perlindungan. Hasan sudah gelap mata, tidak menghiraukan lagi tanda bahaya, lari terus. Akhirnya, ia ditembak tentara Jepang karena disangka mata-mata musuh dan dibawa ke markas Ken Peitai. Ketika Kartini berusaha menemuinya, mereka memperoleh berita bahwa Hasan telah meninggal beberapa menit yang lalu. Mungkin Hasan yang sudah menderita tbc itu tidak tahan atas siksaan Ken Peitai.


ASPEK SOSIOLOGI DALAM ATHEIS
Latar Belakang Sosial Budaya

Ditinjau dari sosial budaya pada hakikatnya novel Atheis menyuguhkan dua macam anggota masyarakat yang memiliki latar belakang lingkungan hidup yang berlainan, yaitu kelompok antarhubungan langsung (keluarga, para tetangga kampung, persekutuan hidup kecil) dan kelompok dengan antarhubungan tidak langsung (persekutuan hidup besar, serikat buruh, dan serikat majikan).

Dalam roman Atheis, keluarga Raden Wiradikarta, khususnya Hasa mengambarkan kelompok dengan antarhubungan langsung atau kelompok masyarakat yang tertutup. Gambaran lingkunagn hidup mereka sebagai berikut:

Di lereng gunung Telaga Bodas di tengah-tengah pegunungan Priangan yang indah, terletak sebuah kampung, bersembunyi di balik hijau pohon-pohon jeru kGarut, yang segar dan subur tumbuhnya bertanah dan bahwa yang nyaman dan sejuk. Kampung Panyeredan namanya. Kampung itu terdiri dari kurang lebih dua ratus rumah besar dan kecil. Ynag kecil, yang jauh lebih besar jumlahnya dari yang besar, adalah kepunyaan buruh-buruh tani yang miskin dan yang besar ialah milik petani-petani “kaya” (artinya yang mempunyai tanah kurang lebih sepuluh hektar) yang di samping bertani, bekerja juga sebagai tengkulak-tengkulak jeruk dan hasil bumi lainnya. Di antara rumah-rumah kecil dan rumah-rumah besaar dari batu itu, ada lagi beberapa rumah yang dibikin dari “setengah batu” artinya lantainya dari tegel tapi dindingnya hanya sampai kira-kira seperempat tinggi dari batu, sedang ke atasnya dari dinding bambu biasa. (hal 16)


Sebagai anggota masyarakat kampung yang berkeadaan serba sederhana seperti terlukis pada kutipan itu mereka memiliki kemungkinan besar untuk memenuhi kebutuhan rohaniahnya terutama bidang religius. Diceritakan (1926:16) “ Ayah dan ibuku tergolong orang yang sangat saleh dan alim. Sudah sedari kecil jalan hidup ditempuhnya dengan tasbih dan mukena.” Mereka merasa belum cukup dengan patuh menjalankan ajaran agama yang mengandung kewajiban sehari-hari. Seluruh hidupnya dipusatkan pada kehidupan beragama. Mereka berguru keapda seorang Kiai di Banten untuk menjadi mistikus. “ Sebulan kemudian ayahnya memecahkan celengannya dan dengan uang yang ada di dalamnya itu berangkatlah ia ke Bnaten bersama-sama ibu.” (hal 19)

Corak kehidupan keluarga dan lingkungannya mewarnai pendidikan yang diterima Hasan. Sejak berumur lima tahun, Hasan memperoleh pendidkan agama yang fanatik. Dengan kacamata ajaran agama yang fanatik banyak ahal uang dianggapnya tabu. Hasan menjadi orang yang sempit pengetahuan dan pengalaman hidupnya. Tingkah laku Hasn pun tertuju ke arah tercapainya kebutuhan hidup di alam baka, seperti pengakuan Hasan.

Dulu tak ada paduka kegiatan untuk mencari kemajuan di lapangan hidup di dunia yang fana ini. Segala langkah hidupku ditujukan semata-mata ke arah hidup di dunia yang baka, di alam akhirat. (hal 129)

Dengan demikian, jelaslah keadaan sosial budaya yang melatarbelakangi kehidupan keluarga Raden Wiradikarta, khususnya Hasan, yaitu kehiudpan sosial budaya tradisional religius. Sebagai aggota kelompok masyarakat tertutup dengan latar belakang sosial budaya seperti itu, ternyata Hasan (keluarga Raden Wiradikarta) tidak mampu bertahan dan menyesuaikan diri dengan arus modernisasi.

Di pihak lain Rusli, Kartini, dan Anwar merupakan kelompok dengan antarhubungan tidak langsung atau kelompok masyarakat terbuka. Perhatikan riwayat hidup Rusli berikut ini:
Empat tahun Rusli hidup di Singapura. Dan selama empat tahun itu ia banyak belajar tentang soal-soal politik. Bukan hanya dengan jalan membaca buku-buku politik saja, akan tetapi juga banyak bergaul dengan orang-orang pergerakan internasional. Pergaulan semcam itu mudah sekali dijalankan di suatu kota “Internasioanl” seperti Singapura. Macam-macam aliran dan stelsel, serta ideologi-idelogi politik dipelajarinya dengan sungguh-sungguh, terutama sekali ideologi Marxisme.” (hal 36)
Dari Singapura Rusli pindah ke Palembang. Di sana ia sambil berdagang, banyak menulis surat-surat kabar dengan memakai nama samaran. Kemudian ia pindah ke Jakrta, dan pada akhirnya pindah ke kota Bandung. (hal 36)


Dari kutipan-kutipan yang telah dikemukakan dapat diketahui latar belakang sosial budaya diri Rusli. Sebagai anggota masyarakat yang terbuka tampak Rusli telah berada dalam tingkat kebudayaan modern. Dia memilih politik menjadi sarana untuk ikut bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup masyarakat dan kebudayaan. Jelas pula kiranya, tingkah laku Rusli diarahkan ke kepuasan hidup di alam fana ini. Akibat dari sosial budaya moern yang menjadi latar belakang hidupnya, maka tidak ada kesulitan pada diri Rusli untuk menyesuaikan diri dengan arus modernisasi.

Dari kelompok masyarakat terbuka diceritakan pula adanya individu yang salah sikap dalam menerima pengaruh kebudayaan modern. Salah satu contoh adalah penampilan diri Karetini. Diceritakan bahwa pengaruh kebudayaan modern meresap jau dalam kehidupan Kartini. Tidak hanya itu pengaruh kebudayaan modern pada diri Kartini. Bagi Kartini, yang kebetulan sedang mengalami keresahan akibat kematian suaminya dan campur tangan pihak keluarga suaminya, pengaruh modern yang dibawa oleh Rusli diterimanya tanpa seleksi. Kartini kehilangan pribadi sebagai orang Indonesia, orang Jawa. Pergaulan bebas tidak asing lagi baginya. Pernah ia berjalan sendiri pada tengah malam di daerah perempuan jalang. Sudah barang tentu sikap Kartini ini minimal menimbulkancitra bahwa Kartini seorang perempuan yang tidak baik.

ASPEK PSIKOLOGI DALAM ATHEIS

Kegoncangan kepercayaan dialami Hasan karena tidak bisa memilih pendirian yang beanr. Cara Rusli berbicara, mengmeukakan pendapatnya yang ramah, dan simpatik memperoleh sukses, medapat tempat di hati Hasan. Ia merasa menajdi manusia baru. Karena imannya yang telah goncang, ia tidak lagi merasa sebagai teis yang tulen, tetapi lebih merasa sebagai atheis meskipun Rusli dan Anwar belum menganggapnya sebagai atheis. Setelah memasuki dunia atheis kegoncangan kepercayaan yang dideritanya berkembang menjadi konflik kejiwaan. Konflik itu muncul semenjak ia mulai kenal dengan Kartini. Hasan yang tadinya berkeyakinan mistik dengan pembatasan pergaulan, merasa kaget dengan kenyataan hidup modern, bebas lepas yang diperlihatkan Kartini yang kemudian dikawininya.

Konflik kejiwaan Hasan meningkat klimaksnya denga terjadinya pertengkaran antara Hasan dengan ayahnya. Konflik kejiwaan belum berakhir sampi disitu, konflik kejiwaan berjalan terus pula setelah perkawinan Hasan-Kartini. Perkawinan yang pada hakikatnya hasil pendurhakaan Hasan terhadap tradisi orang tuanya. Ia diburu-buru oleh perasaab menyesal dan kutukan orang tuanya menghantui perkawinannya. Perkawinan Hasan-Kartini yang semula merupakan klimaks pembangkangan Hasan, disusul oleh antiklimaks meninggalnya Raden Wiradikarta, yang meninggalkan kutukan atas diri Hasan. Meskipun Hasan samapi merangkak minta ampun sebelum ajal merenggut jiwa ayahnya. Namun, ayahnya yang kecewa tidak memberi ampun kepada Hasan. Sebaliknya kutukan terhadap Hasan suatu pukulan mental yang amat parah akibatnya bagi jiwa dan fisik Hasan. “ Janganlah engaku dekat-dekat kepadaku … janganlah kau ganggu aku dalam imanku, agar mudah ku tempuh perjalananku ke hadirat-Nya ….” (hal 219)


DAFTAR RUJUKAN
Atmosuwito, Subijantoro. 1989. Perihal Sastra dan Religiusitas Dalam Sastra.
Bandung: Sinar Baru.
Jassin, H.B.Kesusastraan Indonesia Modern Dalam Kritik dan Esei II. Jakarta:
PT Gramedia.
Kusdiratin, dkk. 1978. Memahami Novel Atheis. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa.
Ratna, Kutha Nyoman. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Rosidi, Ajip. 1982. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Bina Cipta.
Saraswati, Ekarini. 2003. Sosiologi Sastra, Sebuah Pemahaman Awal. Malang: Bayu
Media dan UMM Press.


Pendekatan Analitis dan Strukturalisme Genetik dalam Puisi "Membaca Tanda-Tanda", "Episode", DAN "Dalam Doaku"


A. PENGERTIAN

a. Pendekatan Analitis

Pendekatan analitis merupakan salah satu pendekatan di antara sejumlah pendekatan yang telah dikemukakan oleh J. N. Hook. Pengertian pendekatan analitis menurut Aminuddin (2004:163) adalah suatu pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan ide-idenya, sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasannya, elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsik itu sehingga mampu membangun adanya kesalarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknanya. Pengertian ini masih bersifat umum karena rumusan pengertian tersebut belum mengacu pada salah satu genre sastra tertentu, apakah itu prosa fiksi ataukah puisi.

Pengertian pendekatan analitis dalam mengapresiasi puisi adalah pendekatan yang secara sistematis objektif berusaha memahami unsur-unsur intrinsik dalam puisi, mengidentifikasi peranan setiap unsur intrinsik dalam puisi serta berusaha memahami bagaimana hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lainnya (Aminuddin, 2004:164).

Menurut Aminuddin (2004:163), ciri-ciri pendekatan analitis dalam mengapresiasi puisi adalah sebagai berikut.
  1. Dalam pendekatan analitis, penelaah menyikapi puisi sebagai realitas yang memiliki keunikannya sendiri dan berbeda dengan realitas yang terdapat dalam bacaan lain.
  2. Dalam pendekatan analitis, penelaah menyikapi puisi sebagai suatu kesatuan yang dibentuk oleh unsur-unsur intrinsik tertentu. Setiap unsur intrinsik dalam puisi dapat dianalisis secara terpisah meskipun akhirnya harus membuahkan kesimpulan yang mendukung suatu kesatuan.
  3. Berbeda dengan bentuk pendekatan lainnya, pendekatan analitis dalam mengapresiasi puisi adalah suatu pendekatan yang paling bersifat literer karena pendekatan tersebut berusaha menganalisis keseluruhan unsur intrinsik dalam puisi serta berusaha memahami dan menyimpulkannya.
  4. Pendekatan analitis dalam mengapresiasi puisi harus membuahkan kesimpulan yang objektif dan sistematis. Oleh sebab itu, ciri metode kerja dalam pendekatan analitis haruslah bersifat saintifik, dalam arti penelaah harus memiliki landasan teori yang jelas, maupun bersikap objektif serta bekerja secara sistematis.
  5. Hasil penerapan pendekatan analitis harus mampu menggambarkan peranan setiap unsur intrinsik suatu puisi serta mampu menggambarkan bagaimana hubungan antara unsur yang satu dengan yang lainnya dalam rangka membangun suatu kesatuan.

b. Pendekatan Strukturalisme Genetik

Lucien Goldmann adalah orang yang mengembangkan fenomena hubungan antara sastra dengan masyarakat dengan teorinya yang dikenal dengan dengan nama strukturalisme genetik. Dalam hal ini, Goldmann mengemukakan bahwa fakta kemanusiaan merupakan struktur yang bermakna. Semua aktivitas manusia merupakan respon dari subjek kolektif atau individu dalam situasi tertentu yang merupakan kreasi atau percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok dengan aspirasinya. Menurut Goldmann dalam Fananie (2000:164), sesuatu yang dihasilkan merupakan fakta hasil usaha manusia untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik dengan dunia sekitarnya. Karya sastra yang besar oleh Goldmann dianggap sebagai fakta sosial dan subjek transindividual karena merupakan hasil aktivitas yang objeknya merupakan alam semesta dan kelompok manusia.

Strukturalisme genetik adalah hubungan genetik yang merupakan keterikatan antara pandangan dunia penulis dalam sebuah karya dengan pandangan dunia pada ruang dan waktu tertentu (Fananie, 2000:118). Menurut Teeauw dalam Fananie (2000:118), dalam pengertian ini karya sastra dapat dipahami asalnya dan kejadiannya.

Menurut Goldmann dalam Fananie (2000:120), sebuah analisis strukturalisme genetik didasarkan faktor kesejarahan karena tanpa menghubungkan dengan fakta-fakta sejarah pada suatu subjek kolektif dimana karya tersebut diciptakan, tidak seorang pun akan mampu memahami secara komprehensif worldview atau hakikat makna dari karya yang dipelajari.


B. PENDEKATAN ANALITIS DAN STRUKTURALISME GENETIK DALAM PUISI MEMBACA TANDA-TANDA KARYA TAUFIK ISMAIL

Membaca Tanda-tanda

Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas
dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita

Ada sesuatu yang mulanya
tidak begitu jelas
tapi kita kini mulai merindukannya
Kita saksikan udara
abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau
yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil
tak lagi berkicau pergi hari

Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan

Kita saksikan zat asam
didesak asam arang
dan karbon dioksid itu
menggilas paru-paru

Kita saksikan
Gunung memompa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir membawa air
air
mata

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?

Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani api dan batu

Allah
Ampunilah dosa-dosa kami

Beri kami kearifan membaca
Seribu tanda-tanda

Karena ada sesuatu yang rasanya
mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari

Karena ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kami
mulai
merindukannya

Karya: Taufik Ismail

Menurut Ismail dalam Santosa (2002:214) karya-karyanya yang dibuat bertolak dari: angan-angan, kenyataan, kepekaan, kepekakan, kekenyangan, kelaparan, nyeri, cinta, ketidakpastian, penindasan, penyesalan, kecongkakan, kekebalan, tekad, ketidakpastian, kelahiran, maut, kefanaan, dan ke-Yang Gaiban” . Dengan demikian, titik tolak keberangkatan Taufik Ismail dalam kepenyairannya adalah realitas hidup manusia. Dari realitas hidup yang bermacam-macam itu kemudian dilakukan pembacaan yang seluas-luasnya, selanjutnya ia berkarya, menulis kisah sajakan yang menghibur dan bermuatan pendidikan, serta pada akhirnya ia menyampaikan kabar itu kepada pembaca atau pendengarnya.

Realitas hidup yang dihadapi penyair yang dikategorikan oleh H. B. Jassin (1968) sebagai “Penyair Angkatan 66” ini adalah dua dunia yang saling beroposisi atau berpasangan. Ada suka dan ada duka, ada angan-angan dan ada kenyataan, ada kelahiran dan ada kematian, ada kecongkakan dan ada pula kesantunan, ada kekacauan dan ada kedamaian, dan sebagainya.
Sebagai seorang muslim, visi dan misi kepenyairan Taufik Ismail dalam segala tindakannya, termasuk dalam hal menciptakan puisi, berkewajiban mengamalkan isi Al-Quran sebagai tuntunan hidupnya. Menurut Santosa (2002:215), tindakan yang dilakukan oleh Taufik Ismail ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Ali Imran:190-191.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda ke-Maha Esa-an Allah bagi orang-orang yang menggunakan pikiran, yaitu orang-orang yang mengingat Allah waktu berdiri, waktu duduk, dan waktu berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah sia-sia Engkau menciptakan ini semua! Maha Suci Engkau! Lindungilah kami dari siksaan api neraka.’”

Ayat di atas memberikan petunjuk kepada kita bahwa orang yang menggunakan pikirannya wajib menangkap dan meyakini bahwa semua gejala alam yang terbentang di dunia ini-bergeraknya angin, bergantinya siang dan malam, berputarnya bumi mengelilingi matahari, tersebarnya bintang-bintang di langit, daun yang gugur, dan semua makhluk ciptaan Allah-itu merupakan tanda keagungan , kebijaksanaan, keadilan, dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Selain itu, orang yang memiliki pikiran tidak akan leka siang maupun malam, waktu kapan saja-baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring-selalu menggunakannya untuk dapat “membaca tanda-tanda” atau fenomena alam agar semua yang diciptakan Allah tidaklah sia-sia. Membaca (iqra’) dalam arti yang seluas-luasnya, termasuk membaca tanda-tanda gejala alam, jelas merupakan petunjuk Allah kepada kita agar memiliki kearifan menangkap “kalam ikhtibar”, sastra yang tidak tertuliskan atau firman yang tidak terlisankan (Santosa, 2002:215).

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia yang menciptakan dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al ‘Alaq:1-5)


Melalui puisi “Membaca Tanda-tanda” Taufik Ismail ingin mengajak pembaca melakukan kegiatan membaca terhadap gejala-gejala alam yang terjadi di sekitar kita. Kemampuan Taufik Ismail membaca tanda-tanda zaman tersebut sebagai suatu kabar kepada kita agar memperhatikan gejala alam yang semakin lama lepas dari genggaman tangan kita. Ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang harus kita raih kembali seperti mulanya. Manusia tentu akan merindukan suasana yang alami, yang semurni-murninya, suasana alam sebelum terjamah oleh tangan-tangan teknologi manusia.

Membaca tanda-tanda zaman seperti yang dilakukan oleh Taufik Ismail itu sebagai suatu respon atau tanggapannya terhadap realitas, seperti pengakuannya: “Saya merasa lega karena lewat puisi saya dapat merespon secara estetis berbagai peristiwa dan masalah bangsa terkini, baik itu politik, ekonomi, hukum, keamanan, dan kemasyarakatan (Kakilangit dalam Santosa, 2002:218). Selain itu juga, puisi-puisi karya Taufik Ismail merupakan puisi naratif, puisi berkabar, yang merespon situasi yang terjadi di dalam masyarakat. Dan tidaklah salah bila Taufik Ismail dikategorikan penyair yang berjiwa sosial yang tinggi.

Di dalam puisi “Membaca Tanda-tanda”, banyak gejala alam yang Taufik Ismail ambil sebagai sumber inspirasinya., misalnya dalam bait kedua, ketiga, keempat, sampai dengan bait ketujuh.
…Kita saksikan udara/ abu-abu warnanya/ Kita saksikan air danau/ yang semakin surut jadinya/ Burung-burung kecil/ tak lagi berkicau pagi hari//
Hutan kehilangan ranting/ Ranting kehilangan daun/ Daun kehilangan dahan/ Dahan kehilangan hutan// Kita saksikan zat asam/ didesak asam arang/ dan karbon dioksid itu menggilas paru-paru// Kita saksikan/ Gunung memompa abu/ Abu membawa batu/ Batu membawa lindu/ Lindu membawa longsor/ Longsor membawa air/ Air membawa banjir/ Banjir membawa air/ air/ mata//…

Taufik Ismail ingin mengajak pembaca untuk memperhatikan, mengamati perubahan alam yang terjadi, merenungi semua yang telah dilakukan yang di dalam puisinya memakai pilihan kata “membaca”: membaca gempa, disapu banjir, dihalau api dan hama, dihujani abu dan batu (bait ketujuh).

Bait pertama sebagai pengantar menuju isi merupakan ungkapan Taufik Ismail yang merasa kehilangan sesuatu, yang dirasakan juga oleh insan manusia yang lain, namun sesuatu itu belum jelas dan masih gamang. Tetapi, pada bait selanjutnya, Taufik Ismail memberikan tanda-tanda yang membuatnya merasa kehilangan dan dilanda kerinduan, tanda-tanda itu diantaranya: udara yang telah berwarna abu-abu (lambang untuk pencemaran udara yang terjadi pada saat ini), air danau yang semakin surut, burung-burung yang tak lagi berkicau (akibat tak ada tempat bagi mereka untuk bersarang, penebangan hutan/ pohon/ perburuan).

Pencemaran udara, penebangan hutan, perburuan liar, dan sebagainya telah membawa dan mengundang berbagai macam bencana, mulai dari gunung berapi, gempa bumi, longsor, dan banjir yang semuanya itu memakan korban jiwa:
Kita saksikan/ Gunung memompa abu/ Abu membawa batu/ Batu membawa lindu/ Lindu membawa longsor/ Longsor membawa air/ Air membawa banjir/ Banjir membawa air/ air/ mata//

Manusia yang lalai akan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya sebagai khalifah di muka bumi, telah merusak keseimbangan alam sehingga timbullah berbagai bencana alam yang terjadi. Namun semuanya tidak lepas dari kehendak Sang Pencipta dan Yang Maha Memiliki. Dia tengah menguji makhluk-Nya dengan ditimpakannya musibah dan bencana, apakah makhluk itu sabar dan sadar terhadap segala apa yang telah diperbuatnya.

Pada bait ketujuh, kedelapan, dan kesembilan menandakan suatu kesadaran dan rasa ingin kembali, doa, dan pengampunan dosa seorang hamba kepada Sang Khalik.

…Allah/ ampunilah dosa-dosa kami// Beri kami kearifan membaca/ Seribu tanda-tanda//…

Kemudian, dalam bait kesepuluh dan kesebelas berisi tentang pernyataan ulang tentang sesuatu yang dirasa telah hilang dan kini mulai dirindukan, yaitu suasana alami yang semurni-murninya, suasana alam sebelum terjamah oleh tangan-tangan teknologi manusia.

Pilihan kata yang dipakai oleh Taufik Ismail sebagian besar mengandung sindiran dan refleksi terhadap diri pribadi manusia sebagai hamba Allah. Dalam mengungkapkan mulai rusak dan punahnya hutan Taufik Ismail menggunakan kata kehilangan: Hutan kehilangan ranting/ Ranting kehilangan daun/ Daun kehilangan dahan/ Dahan kehilangan hutan//. Begitu juga pengungkapan bencana alam seperti banjir, gempa, longsor, gunung meletus yang ada di bait kelima. Banyak terdapat kata konkret di dalam puisi Taufik Ismail ini, diantaranya udara, air danau, burung kecil, hutan, ranting, daun, dahan, gunung, abu, batu, longsor, banjir, dan sebagainya. Hal yang menarik dari puisi ini adalah kata ganti yang dipakai “kami” dan “kita”. Kata ganti yang dipakai di dalam puisi ini memberikan kesan bahwa Taufik Ismail mengajak pembaca turut merasakan apa yang dirasakannya, turut merenung terhadap apa yang telah kita perbuat terhadap alam lingkungan sekitar, dan memohon ampunan terhadap dosa-dosa yang telah dilakukan.

Tipografi puisi yang digunakan oleh Taufik Ismail merupakan gabungan dari bentuk yang konvensional dan inkonvensional. Bentuk yang inkonvesional terdapat pada bait pertama, kedua, keempat, kesepuluh, dan kesebelas. Bentuknya yang menggantung dengan huruf besar di baris pertamanya yang kemudian pada awal baris berikutnya diawali dengan huruf kecil. Bila kita membacanya seperti kita membaca prosa atau naskah biasa maka akan kita dapat bahwa itu merupakan satu kalimat, namun dalam puisi ini dibentuk sedemikian rupa sehingga ide tidak kelihatan tampak biasa tetapi menjadi luar biasa. Dengan bentuk yang seperti ini juga mempengaruhi nada dan suasana ketika membaca puisi ini. Nada dan suasana yang ada dalam puisi ini sedih, sunyi, penuh resapan hati.

Permainan bunyi juga digunakan Taufik Ismail dalam puisinya ini. Asonansi a mendominasi pada bait pertama. Pada bait pertama juga terdapat rima dalam. Selain pada bait pertama, asonansi a juga terdapat dalam bait keenam. Sedangkan kakofoni ada pada bait ketiga, keempat, dan kelima. Di bait pertama dan keenam terdapat rima dalam, sedangkan untuk rima akhir terdapat pada bait kedua, ketiga, dan kelima. Rima identik juga menghiasi puisi ini, diantaranya pada bait pertama dan kedua, bait kesepuluh dan kesebelas, berikut salah satu kutipannya.
Kita saksikan zat asam
Didesak asam arang


Kita saksikan
Gunung memompa abu
Aliterasi nampak jelas pada bait ketiga yaitu adanya aliterasi /n/ yang menambah suasana gundah, mendukung kakofoni.

Gaya bahasa juga turut berperan serta dalam menciptakan suasan yang sunyi, gundah, dan sendu. Paradoks yang terdapat pada bait kedua baris pertama, kedua, dan ketiga: Ada sesuatu yang mulanya/ tidak begitu jelas/ tapi kini kita mulai merindukannya. Anafora juga menghiasi bait kedua dengan pengulangan kata kita saksikan di awal baris. Di bait ketiga terdapat gaya bahasa mesodiplosis, yaitu adanya pengulangan kata kehilangan yang semuanya terdapat pada tengah baris. Di bait kelima juga terdapat mesodiplosis, yaitu pengulangan kata membawa. Anafora pada bait kedua dengan pengulangan kata kita saksikan di awal baris namun masih dalam satu bait, juga pada bait ketujuh. Gaya bahasa polisidenton di bait keempat dengan penggunaan kata yang sama maknanya yaitu kata asam arang dan karbon dioksid. Gaya bahasa satire terdapat pada bait keenam: Bisakah kita membaca tanda-tanda? Gaya bahasa klimaks dipergunakan pada bait kelima yang menyatakan suatu kejadian yang memuncak dari berbagai bencana yang terjadi yaitu mendatangkan tangis, jeritan, yang bisa saja mewakili keadaan yang sangat sedih atau kematian.

Citraan yang banyak digunakan oleh Taufik Ismail dalam puisi ini adalah citra perasaan dan penglihatan. Citra perasaan bisa dilihat di bait pertama dan kesepuluh, dimana bisa diidentifikasikan melalui kata “yang rasanya”. Sedangkan untuk citra penglihatan ada pada bait kedua, keempat, dan kelima yang menggunakan kata “saksikan”.
Pemakaian majas sangat minim sekali. Majas yang digunakan oleh Taufik Ismail adalah majas personifikasi dalam bait kelima.

Dari semua unsur-unsur intrinsik itu mendukung ide atau gagasan yang ingin diungkapkan oleh Taufik Ismail. Semuanya membentuk satu kesatuan yang membuat suasana dalam puisi mengajak pembaca untuk turut serta merasakan apa yang dirasakan oleh sang penyair. Suasana yang sendu dan sunyi karena seorang hamba memohon ampun kepada Sang Khalik atas dosa-dosanya (berdoa), gundah karena merasa kehilangan sesuatu dan merindukannya, sedih karena alam yang mulai tidak bersahabat kepada manusia.


C. PENDEKATAN ANALITIS DAN STRUKTURALISME GENETIK DALAM PUISI EPISODE KARYA W. S. RENDRA

Episode

Kami duduk berdua
di bangku halaman rumahnya.
Pohon jambu di halaman itu
berbuah dengan lebatnya
dan kami senang memandangnya.
Angin yang lewat
memainkan daun yang berguguran
Tiba-tiba ia bertanya:
“Mengapa sebuah kancing bajumu
lepas terbuka?”
Aku hanya tertawa.
Lalu ia sematkan dengan mesra
sebuah peniti menutup bajuku.
Sementara itu
aku bersihkan
guguran bungan jambu
yang mengotori rambutnya.

(1971)

Episode, sebuah puisi karya Rendra yang didasarkan pada sesuatu yang berasal dari alam. Sesuatu yang berasal dari alam ini kemudian diambil oleh penyair dalam karyanya karena dianggap mampu mewakili isi atau maksud yang hendak disampaikan penyair kepada pembaca. Coba simak baris kedua sampai dengan ketujuh dari puisi di atas. Di bangku halaman rumahnya, kalau kita perhatikan di dunia nyata, bukankah sering kita lihat sebuah rumah yang memiliki bangku. Bangku itu sering digunakan oleh pemilik rumah untuk duduk santai atau menerima tamu yang menginginkan suasana yang tidak resmi, dan bahkan juga digunakan oleh sepasang kekasih yang sedang bercengkrama. Bangku yang terdapat di halaman rumah tentu saja selalu ada yang meneduhinya dan biasanya peneduh itu adalah pepohonan yang sengaja ditanam di halaman rumah. Pohon-pohon yang biasa ditanam di halaman rumah biasanya mangga, rambutan, belimbing, atau pohon jambu. Namun, dalam puisi ini Rendra benar-benar terinspirasi dengan pohon jambu (jambu air) yang bunganya mampu diterbangkan oleh angin hingga sering berserakan di bawah pohonnya. Di sinilah letak kejelian Rendra karena dengan menggunakan pohon jambu ia mendapatkan ide yang benar-benar menjadi inti dari puisi ini, yaitu yang terdapat pada baris keenam belas dan ketujuh belas: …aku bersihkan/ guguran bunga jambu/ yang mengotori rambutnya//

Puisi ini mewakili kehidupan nyata dan mungkin juga pengalaman dari seorang Rendra. Dua sejoli yang tengah duduk di halaman rumah, di bawah pohon jambu. Suasana ini kemungkinan besar terjadi di waktu sore hari dimana angin bertiup sepoi-sepoi: …Angin yang lewat/ memainkan daun yang berguguran// Kejadian ini tentu tidak mungkin terjadi di siang hari yang terik dan jarang angin bertiup. Sejak duduk pertama kali di bangku itu, dua sejoli itu masih saling malu-malu dan hanya mampu memandang pohon jambu yang tengah berbuah lebatnya sebagai temapt mengalihkan perhatian pasangannya agar tidak melihat rasa kegelisahannya: …Pohon jambu di halaman itu/ berbuah dengan lebatnya/ dan kami senang memandangnya//. Namun, rasa kaku di antara mereka mencair karena tiba-tiba sang kekasih bertanya kepada pasangannya “Mengapa sebuah kancing bajumu lepas terbuka?”. Hal ini merupakan tanda perhatian sang kekasih terhadap pasangannya karena secara diam-diam ia memperhatikan orang yang duduk di sampingnya. Si pasangan bersikap cuek terhadap hal tersebut dan hanya tertawa. Kejadian selanjutnya adalah hal puncak dari kekakuan mereka bersikap sejak pertama duduk di bawah pohon jambu. Sang kekasih dengan mesra menyematkan sebuah peniti (yang entah darimana ia temukan atau mungkin ia selalu membawa peniti kemanapun ia pergi) menutup baju pasangannya. Akhirnya pasangannya pun berani membersihkan guguran bunga jambu yang mengotori rambut sang kekasihnya sekaligus membelai rambutnya.

Gagasan tersebut terjalin apik dalam puisi itu dengan dibalut unsur-unsur intrinsik puisi yang mendukungnya. Tidak semuanya memang unsur-unsur intrinsik ada dalam puisi tersebut. Puisi ini miskin akan majas, hanya majas personifikasi yang menghiasi puisi ini yaitu ada pada baris keenam dan ketujuh: …Angin yang lewat/ memainkan daun yang berguguran//

Unsur intrinsik yang mendominasi adalah diksi dan bunyi. Kata-kata yang dipakai oleh Rendra adalah kata yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya bangku, halaman, rumah, pohon, jambu, dan sebagainya dan semuanya juga termasuk kata konkret. Puisi ini memang termasuk puisi naratif yang berisi tentang sebuah cerita sehingga kata-kata yang dipilih adalah kata-kata yang sederhana, yang mudah dimengerti sehingga pembaca tidak merasa kesulitan untuk memahaminya dsan mengikuti jakan cerita (episode). Hal ini juga mungkin disengaja oleh Rendra yang biasanya dalam puisinya tercantum simbol-simbol yang perlu diparafrasekan dulu untuk dapat memahaminya.

Banyak terdapat asonansi a dalam puisi ini. Hampir tiap larik didominasi vokal a dan sisanya adalah bunyi vokal u. Hal ini memang sesuai dengan suasana yang diinginkan oleh Rendra dalam puisinya yaitu suasana riang, gembira, bahagia, seperti yang terdapat pada larik kesebelas: …Aku hanya tertawa//. Hal ini sudah dapat menunjukkan suasana yang gembira.
Gaya bahasa yang digunakan oleh Rendra sangat minim sekali, yaitu totem pro parte pada baris keduabelas dan ketigabelas: …Lalu ia sematkan dengan mesra/ sebuah peniti menutup bajuku//. Sedangkan untuk majas terdapat majas personifikasi pada larik keenam dan ketujuh: …Angin yang lewat/ memainkan daun yang berguguran//.

Sekilas ketika kita membaca puisi ini, seolah-olah semuanya terkesan lugas. Gaya bercerita yang ada dalam puisi ini memang hampir sama dengan gaya bercerita yang terdapat di prosa, akan tetapi karena penyusunan larik-larik yang ditata sedemikian rupa menjadikannya memiliki nilai estetika. Selain itu, jika kita perhatikan lebih dalam, Rendra memiliki kepiawaian yang khusus dalam menata tiap “episode” dengan bantuan hal-hal alami yang ia masukkan dalam puisi tersebut. Episode pertama adalah dua sejoli yang duduk di bangku halaman rumah di bawah pohon jambu. Episode yang kedua mereka berdua masih tampak kaku dan akhirnya pohon jambulah yang dijadikan sebagai tempat mengalihkan perhatian kegelisahan mereka. Episode yang ketiga ternyata sang kekasih mencuri-curi pandang terhadap pasangannya hingga ia menemukan kancing baju pasangannya terbuka. Selanjutnya, ia menyematkan peniti untuk menutup baju pasangannya. Episode terakhir adalah sang lelaki akhirnya memberanikan diri untuk membersihkan bunga jambu yang jatuh di rambut sang kekasih. Dari semua episode di atas maka tepatlah pemberian judul puisi di atas dengan judul “Episode”.

Dalam puisi ini banyak terdapat citraan penglihatan. Pembaca seolah-olah bisa melihat dua sejoli duduk di bangku halaman rumah. Di halaman rumah tersebut ada pohon jambu yang sedang berbuah dengan lebat. Daun yang berguguran ditiup angin dan seterusnya. Semua ini terwujud karena pilihan kata tadi.

Walaupun puisi Rendra ini tidak dapat dianalisis secara keseluruhan dengan menggunakan pendekatan analitis diakibatkan karena unsur-unsur intrinsiknya yang minim, akan tetapi apa yang ada di dalam puisi ini (dengan unsur intrinsik yang terbatas) tetap membentuk satu kesatuan sehingga terjalin sebuah episode.



D. PENDEKATAN ANALITIS DAN STRUKTURALISME GENETIK DALAM PUISI DALAM DOAKU KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO

Dalam Doaku


Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak
memejamkan mata yang meluas bening siap menerima
cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan
menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku
kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
kepada angin yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang
mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap
di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan
mangga itu

Magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat
pelahan dari nun di sana, yang bersijingkat di jalan kecil
itu menyusup di celah-celah jendela dan pintu dan
menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi
dan bulu-bulu mataku

(Sapardi Djoko Damono)

Puisi karya Sapardi ini menggambarkan pergantian waktu dari terbitnya fajar (subuh) hingga senja hari (magrib). Puisi ini menggambarkan seorang pemeluk agama Islam yang beribadah di subuh hari, siang hari, petang hari, dan senja hari. Kata yang digunakan untuk mewakili istilah beribadah adalah dalam doaku. Dan Sapardi memang benar-benar pintar dalam meilih kata-kata hingga puisi ini bersifat universal, bisa dibaca oleh siapa pun dengan latar agama selain Islam. Namun bagi pembaca yang beragama Islam tentu saja langsung akan tertuju dengan istilah sholat, yang juga adalah ritual berdoa kepada Allah dengan waktu yang telah ditentukan pelaksanaannya. Dalam agama Islam istilah beribadah itu adalah sholat: sholat subuh, dzuhur, ashar, magrib, dan isya’.

Pada bait pertama adalah penggambaran suasana subuh. Dimana si aku khusyuk berdoa di tengah suasana subuh yang masih hening, sepi, dengan langit yang bersih, membentang luas, dan siap menerima sinar matahari pertama kali. Si aku begitu takjub akan kebesaran Sang Pencipta dan Yang Maha Memiliki langit di waktu subuh.

Dalam bait kedua menggambarkan waktu siang hari, waktu dzuhur: Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,…. Si aku merasakan Sang Khalik begitu dekat dengannya, seakan-akan Ia menjelma pucuk-pucuk cemara yang selalu hijau. Angin yang mendesau memberikan kesejukan di tengah hari yang biasanya begitu panas, namun dengan adanya pucuk-pucuk cemara yang hijau seakan-akan semuanya menjadi segar dan sejuk.

Pada bait berikutnya adalah gambaran suasana sore hari yang sedang gerimis. Angin yang mendesau di siang hari ternyata menandakan suasana yang hendak hujan. Si aku kembali berdoa di sore hari dan melihat ada seekor burung gereja yang hinggap di ranting pohon jambu. Burung gereja itu kehujanan di tengah gerimis dan tampak gelisah lalu hinggap di dahan mangga. Burung gereja diibaratkan hidayah dari Allah oleh si aku. Ia hinggap dimana pun ia mau, begitu juga dengan hidayah akan turun kepada manusia yang berusaha dan Allah menghendakinya.

Kemudian pada bait terakhir adalah suasana di senja hari, waktu magrib, dan si aku kembali berdoa. Si aku merasa Sang Khalik begitu dekat dengannya dengan menjelma menjadi angin yang turun sangat perlahan, yang bersijingkat dan menyusup di celah-celah jendela dan pintu yang kemudian menyentuh dahi dan bulu mata serta rambut si aku. Kita membayangkan mungkin saja si aku sedang bersujud. Suasana yang hening dan damai membuat si kau dapat merasakan perjalanan angin menuju ke arahnya. Angin yang merupakan berkah dari Allah.

Puisi Sapardi ini mengingatkan kita akan pentingnya waktu. Waktu yang tidak kita gunakan sebaik-baiknya untuk kegiatan yang berguna atau beribadah kepada-Nya akan menjadi sia-sia dan tidak menghasilkan apapun. Kita akan menjadi orang yang merugi. Masalah waktu memang sangat penting dalam agama Islam, waktu adalah pedang, jika kita tidak pandai menggunakannya maka waktu itu akan melukai kita. Dalam Islam waktu beribadah yang wajib sudah ditentukan yaitu sholat. Di luar itu umat Islam bisa menggunakannya untuk ibadah yang lain dan amalan sholeh lainnya. Seperti yang tercantum dalam Al-Quran surat Al-‘Asr:1-3.
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.”
Yang dimaksud orang-orang beriman dalam agama Islam diantaranya adalah orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya, seperti yang termaktub dalam Q. S. Al-Mu’minun:1-6.
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam sholatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menuanikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluaannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki , maka sesungguhnya mereka tidak tercela.”
Begitu dalam makna puisi karya Sapardi, sebuah pencapaian seorang hamba yang tekun beribadah kepada Sang Khalik menemukan kedamaian dan kekhusyukan.
Bila kita analisis unsur-unsur intrinsiknya satu persatu maka akan kita temukan permainan bunyi yang memakau pembaca. Coba perhatikan larik demi larik puisi tersebut, pasti terdapat permainan bunyi yang menarik. Dalam bait pertama misalnya dapat kita temukan paduan vokal a dan u.

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak
memejamkan mata yang meluas bening siap menerima
cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan
menerima suara-suara
Paduan vokal a dan u ini menimbulkan suasana yang gembira namun tetap khusyuk. Begitu juga yang terdapat pada bait kedua, adanya paduan vokal a dan u.

Irama yang ada dalam puisi ini juga menarik karena adanya perulangan bunyi yang berturut-turut dan bervariasi, diantaranya sajak akhir, asonansi, dan aliterasi. Seperti yang disebutkan di atas bahwa puisi ini didominasi asonansi a dan u. Aliterasi yang ada dalam puisi ini tampak jelas pada bait kedua dan ketiga.

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku
kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
kepada angin yang mendesau entah dari mana

Aliterasi /ng/ dan /n/ tampak jelas dalam bait puisi di atas. Dengan adanya aliterasi ini menimbulkan irama yang benar-benar membuat pembaca tidak bosan untuk terus melanjutkan membaca puisi ini. Sedangkan sajak yang paling banyak ada dalam puisi ini adalah sajak mutlak. Rima identik juga menghiasi puisi ini, yaitu antara bait pertama dan ketiga.
Majas metafora banyak digunakan dalam puisi ini. Menjelma langit, menjelma pucuk-pucuk cemara, menjelma seekor burung gereja, dan menjelma angin. Majas personifikasi juga ada dalam puisi ini.

…kau menjelma langit yang semalaman tak
memejamkan mata yang meluas bening siap menerima
cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan
menerima suara-suara
Dalam bait kedua, ketiga, dan keempat pun terdapat majas personifikasi.
Pilihan kata yang digunakan oleh Sapardi adalah kata-kata yang sudah kita kenal. Sangat sederhana memang dalam pilihan kata yang dipakai tapi dengan diksi yang sederhana mampu menciptakan suasana yang bersahaja dan mampu membuat pembaca hanyut ke dalam puisi ini. Penggambaran waktu subuh yang damai dengan menggunakan kata langit yang semalaman yang tak memejamkan mata yang meluas bening….. Begitu juga dengan penggambaran waktu siang hari: matahari yang mengambang tenang di atas kepala….

Gaya bahasa Sapardi banyak repetisi sehingga tampak memperjelas maksud yang ingin disampaikannya. Dalam satu bait banyak terulang kata-kata yang sama namun dengan hal tersebut mampu menggambarkan suatu keadaan kepada pembaca.
Magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat
pelahan dari nun di sana, yang bersijingkat di jalan kecil
itu menyusup di celah-celah jendela dan pintu dan
menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi
dan bulu-bulu mataku
Bentuk tipografi puisi yang dipakai oleh Sapardi pun turut menyumbang dukungan terhadap kesatuan puisi ini. Setiap penggambaran waktu yang berbeda, ditulis dalam bait baru sedangkan baris di bawahnya ditulis menjorok (menggantung) ke dalam seolah-olah memberi penekanan pada awal bait di baris pertama begitu istimewa.

Pengimajian juga begitu kuat dalam puisi ini. Pembaca seakan-akan merasakan apa yang dirasakan oleh si aku dalam doanya. Citraan perasaanlah yang mendominasi dalam puisi ini dan hampir tiap bait terdapat citraan ini. Citraan perabaan terdapat pada bait keempat: menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi dan bulu-bulu mataku. Citraan penglihatan tampak pada bait pertama, kedua, dan ketiga.

Semua unsur-unsur intrinsik itu telah berhasil menghasilkan sebuah puisi yang bersahaja dalam pilihan katanya dan maknanya.


E. PERBANDINGAN HASIL APRESIASI PUISI DARI KETIGA PUISI DI ATAS

Dari hasil apresiasi ketiga puisi di atas, yaitu, puisi “Membaca Tanda-tanda” karya Taufik Ismail, “Episode” karya W. S. Rendra, dan “Dalam Doaku” karya Sapardi Djoko Damono terdapat persamaan dalam hal penggunaan unsur-unsur intrinsiknya tidak semuanya dipakai lengkap. Ketiga penyair tidak terlalu mementingkan kelengkapan unsur-unsur intrinsik karena puisi mereka tergolong puisi naratif yang hendak menceritakan sesuatu kepada pembaca. Jadi, tidak ada sesuatu yang disembunyikan oleh penyair, penyair tidak bersembunyi di balik kata-kata yang untuk memahaminya pembaca perlu memparafrase terlebih dahulu. Puisi karya Taufik Ismail hampir memiliki ide yang sama dengan puisi karya Sapardi yaitu tentang ketuhanan, namun dalam puisi Taufik Ismail masalah ketuhanan didahului dengan masalah sosial yang terjadi di sekitarnya. Sedangkan puisi W. S. Rendra adalah bercerita tentang pengalaman pribadinya dan tidak menyinggung masalah sosial.

Taufik Ismail dan Sapardi sama-sama menggunakan gaya bahasa repetisi dalam menyampaikan gagasannya dalam puisinya. Sedangkan Rendra tidak menggunakannya. Puisi Rendra yang berjudul “Episode” ini miskin akan gaya bahasa dan majas, permainan bunyi pun hampir tidak ada, berbeda halnya dengan puisi karya Taufik dan Sapardi. Bunyi-bunyi ditata sedemikian rupa oleh Taufik dan Sapardi sehingga suasana yang tecipta benar-benar membuat pembaca hanyut di dalamnya. Namun, Rendra begitu pandai dalam mengatur episode-episode sehingga terjalinlah cerita yang romantis dan membuat pembaca turut tersenyum ketika membacanya.
Tipografi yang digunakan oleh ketiga penyair ini hampir memiliki kemiripan, sama-sama tidak mengikuti bentuk lazimnya puisi. Puisi Rendra yang hanya memiliki satu bait mampu mewadahi gagasan yang ingin disampaikannya. Berbeda halnya dengan puisi karya Taufik dan Sapardi, bentuk puisi mereka menggantung dan sangat panjang sekali. Namun, pembaca tidak bosan untuk menghabiskan puisi tersebut karena pilihan kata yang dipakai begitu sederhana dan tidak membuat pusing pembaca.

Dengan semua persamaan dan perbedaan yang ada di antara ketiga penyair tersebut membuktikan bahwa memang benar adanya jika Taufik Ismail, Rendra, dan Sapardi digolongkan oleh Jassin dalam satu angkatan yaitu angkatan 66.

F. DAFTAR RUJUKAN

Aminuddin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru
Algesindo.
Fananie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University
Press.
Santosa, Puji dkk. 2002. Bahasa dan Sastra Indonesia, Menuju Peran Transformasi
Sosial Budaya Abad XXI. Yogyakarta: Gama Media.


 

Rumah Kata Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha